Melintasi Batas Negara (17): Keributan Kecil di Pagi Hari

Seorang pemuda yang tertidur pulas di halte. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Seorang pemuda yang tertidur pulas di halte. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Setelah menghindar dari sekelompok wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikmati, saya terus berjalan. Tanpa tujuan yang jelas. Saya buta dengan tempat ini. Bahkan sejauh ini masih belum menyadari, jika sesungguhnya Geylang adalah kawasan ‘zona merah’ di Singapore. Disamping sering terjadi tindak kriminal, tempat ini ternyata juga surga bagi prostitusi. (Baca: Satu Malam di Geylang)

Melihat ada warung yang buka, saya melangkahkan kaki kesana. Ingin membeli kopi. Sekalian sambil numpang duduk.

Alangkah kagetnya, ketika merogoh kantong celana, dompet saya tidak ada. Spontan saya merogoh semua kantong yang ada. Mulai dari celana, baju, bahkan jaket yang saya kenakan. Berharap ada keajaiban. Tetapi dompet saya tetap tidak ada. Sialnya, Passport, KTP, SIM, kartu ATM, dan semua uang yang saya punya tersimpan didalam dompet itu.

Dan inilah saya sekarang. Berdiri sendirian dalam kegelapan di sebuah tempat yang jauh dari kampung halaman. Sementara di sepanjang jalan yang hendak dilalui, ada banyak kejutan yang akan terjadi. Sungguh, rasanya sangat tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini.

Saya mulai panik.

Menyesal sekali keluar hotel di pagi buta seperti ini.

Sekuat tenaga saya mengingat kembali. Apakah saya kecopetan ketika melewati kumpulan wanita yang sedang menjajakan dirinya tadi? Ach, rasanya tidak satu pun dari mereka menggerayangi celana saya. Tidak mungkin dompet itu bisa berpindah tangan. Lalu terjatuh dimana? Dan lagipula, saya tidak mungkin kembali ke tempat tadi untuk mencari dompet itu.

Ditengah kegalauan itu, saya terus melangkah. Dan baru berhenti ketika sampai di sebuah halte.

Di halte, ada seorang pemuda yang sedang tertidur pulas. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran saya. Tak jauh dari halte, saya melihat ada sepeda yang ditaruh begitu saja tanpa khawatir akan hilang. Jalanan masih lengang. Hanya ada beberapa bus yang sesekali lewat.

Barangkali tempat ini memang aman. Buktinya, ia bisa tidur dengan begitu nyeyak tanpa ada yang perlu di khawatirkan. Juga sepeda yang ditaruh begitu saja, seolah tak perlu takut akan berpindah tangan. Menyadari hal ini, saya merasa sedikit tenang.

Sepeda di pinggir jalan yang lengang. Tak jauh dari halte tempat saya duduk. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Sepeda di pinggir jalan yang lengang. Tak jauh dari halte tempat saya duduk. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Polisi sedang mendengarkan keterangan laki-laki yang baru saja ribut dengan seorang wanita. Mereka berdiri tak jauh dari sepeda yang diparkir di pinggir jalan. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Polisi sedang mendengarkan keterangan laki-laki yang baru saja ribut dengan seorang wanita. Mereka berdiri tak jauh dari sepeda yang diparkir di pinggir jalan. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Tak lama saya duduk, tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada orang ribut. Seorang wanita, dengan berteriak, sedang mencaki-maki seorang laki-laki. Tak terima, dengan logat melayu, si laki-laki membalas. Perang mulut di pagi buta tak terhindarkan. Makin lama suaranya makin jelas. Laki-laki itu bermaksud menjauh dari si wanita, tetapi si wanita terus mengejar. Keduanya menuju kearah halte. Tempat saya sedang duduk.

Saya sudah deg-degan melihat pertengkaran itu. Pemuda yang tadi sedang tertidur di halte bangun. Setidaknya saya punya teman, sekarang.

Dengan marah, wanita itu menghamburkan segala macam isi kebon binatang kepada si laki-laki. Laki-laki itu berperawakan kecil. Mengenakan jeans dan kaos putih.

Melihat kami berdua sedang duduk di halte memperhatikan mereka berdua, wanita itu dengan intonasi tinggi berkata kepada kami.

“Lihat monyet itu.  Sudah impoten, miskin lagi!” Kalimat yang tak pernah bisa saya lupakan. Saya tahu, ini untuk mengejek laki-laki itu. Untuk meruntuhkan mental dan kepercayaan dirinya.

Mendengar ejekan itu, si laki-laki tambah berang. “Dasar kau! Pelacur tak tahu diri.”

Selanjutnya saya tahu, rupanya dua orang ini adalah PSK dan kliennya. Pada awalnya kedua orang ini telah sepakat dengan tarif 50 dollar. Tetapi karena “senjata” si laki-laki tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tidak bisa ereksi, maka laki-laki itu hanya mau membayar 10 dollar saja. Tetapi si Wanita tak terima. “Aku sudah dipegang-pegang,”  katanya. Keributan tak terhindarkan. Bahkan si Wanita sempat mencakar leher laki-laki itu. Gurat merah terlihat jelas di lehernya.

Dilihat dari postur tubuhnya, laki-laki ini memang kalah jauh. Meski tak bisa dibilang gemuk, si perempuan bertubuh tinggi besar. Sementara laki-laki ini perperawakan kecil. Kurus dan pendek. Bekas cakaran di lehernya, membuktikan jika fisik si perempuan jauh lebih kuat.

Saya hanya terdiam. Begitu juga dengan pemuda yang ada di samping saya.

Setelah lelah beradu mulut, laki-laki itu berjalan menjauh. Ia terlihat sedang menelpon seseorang. Sambil bicara tak jelas, perempuan itu juga menjauh.

Hening.

Satu dua mobil lewat di depan kami dengan cepat.

Pemuda itu kembali tidur.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian, laki-laki itu kembali datang ke halte. Dan setelah itu, tak berapa lama, mobil polisi datang. Laki-laki itu mendatangi mobil polisi dan bercakap-cakap. Rupanya ia melapor ke polisi. Ia menunjukkan bekas cakaran. Polisi memeriksa sebentar.

Dua Polisi Singapore, yang kebetulan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu mendengarkan. Sesekali mengangguk. Sepertinya tidak berminat mendengarkan laporan itu. Polisi terlihat mencatat identitas dan kemudian pergi meninggalkan si laki-laki. (Kascey)

Melintasi Batas Negara (16): Satu Malam di Geylang

Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Salah satu sudut Gylang yang sepi, menjelang pukul 5 pagi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Jantung saya berdetak lebih kencang. Meskipun di pinggir jalan besar, tempat ini sepi sekali. Tetapi bukan kesepian ini yang membuat detak jantung saya terpacu lebih cepat. Bukan juga ketakutan kalau-kalau ada setan yang lewat. Pengalaman melewati sebuah lorong di Geylang, barusan, membuat saya nyaris kehilangan nyali.

Beberapa cafe masih buka. Bahkan toko baju yang ada di sudut jalan juga belum tutup. Saya berkesimpulan, kehidupan disini berjalan selama 24 jam.

Sebenarnya saya sangat awam dengan wilayah ini. Dan justru karena itulah, saya berniat untuk melakukan eksplorasi. Sayang kan jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura hanya untuk numpang tidur? Karena itu, pagi-pagi sekali saya terbangun. Mengambil notes kecil yang selalu saya bawa, dan kemudian berjalan meninggalkan hotel.

Sejak keluar dari hotel, ada banyak wanita yang bergerombol dengan pakaian yang mencolok. Kekurangan bahan. Mereka antusias menyapa saya. Saya hanya tersenyum, sambil tetap berjalan. Dari bahasa yang digunakan, saya tahu, mereka berasal dari Indonesia. Apalagi sayup-sayup terdengar, mereka menyanyikan sebuah syair,” Abang tukang sate, mari-mari sini. Saya mau beli…”

Hal yang biasa, pikir saya. Ketika bersama dengan kawan-kawan, saya pun terkadang melakukan hal yang sama terhadap minoritas. Menggoda cewek yang lewat. Apalagi jika ia sendirian.

Tak berapa lama berjalan, kembali wanita bergerombol. Sial, tidak ada jalan lain untuk menghindar. Saya harus melewati wanita-wanita bermata sipit dan berkulit bersih itu. Kali ini bahkan dengan pakaian yang lebih seksi. Beberapa hanya menggenakan tank top dan celana jeans pendek yang tak menutupi paha.

Melihatnya, nyali saya ciut juga. Saya sudah hampir balik kanan. Tetapi wanita-wanita itu terlanjur melambaikan tangan kearah saya. Lambaian tangan itu seolah menjadi magnet bagi saya untuk terus melangkah kedepan. Ia menawari saya untuk “begituan”.

Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi
Sebuah gang, tempat saya merasa dipecundangi. | Foto: Dokumentasi Pribadi

Murah, cukup hanya dengan 30 dollar, katanya.

Saya mengangkat kedua tangan sambil terus berjalan. Menolak secara halus dengan mengatakan, “sudah-sudah”.

Seseorang memegang tangan saya dari belakang. Itu membuat langkah saya terhenti.  Ketika menoleh, ternyata yang melakukannya adalah seorang wanita dengan baju berlengan pendek warna putih. Rambutnya yang hitam tergerai, menutupi dadanya yang sedikit terbuka. Pagi itu ia mengenakan rok sedikit di atas lutut, dengan sandal berhak tinggi. Sebuah tas kecil terselempang di pundaknya. Serasi sekali.

“Ayolah,” katanya pelan dan manja.

“Sekali ini saja.”

Entahlah, bagaimana wajah saya ketika mendapatkan tawaran itu. Yang jelas, jantung saya berdegup puluhan kali lebih cepat. Saya harus menghindar dari mereka. Itu saja yang saya pikirkan. Akhirnya, pilihan saya adalah dengan menyeberang ke sisi kanan jalan. Mereka berdiri berjejer di sebelah kiri.

Sial. Si baju putih berlengan pendek itu mengikuti saya.  Melihat itu, saya terpikir untuk lari. Tetapi akal sehat saya mengatakan, ini negeri orang. Kalau saya lari dan mereka berteriak maling, bisa jadi riwayat saya akan habis di tempat ini. Bagaimana kalau saya terima tawaran itu?

Saya sedikit lega, ketika melihat di depan ada dua orang laki-laki yang sedang berjalan kearah saya. Bisa jadi mereka adalah teman si PSK yang akan menangkap saya. Tetapi yang saat itu melintas didalam pikiran saya, saya tidak lagi sendirian ditengah-tengah ‘penyamun’. Wanita itu terus mengikuti dibelakang saya, meskipun sandal berhak tingginya tidak bisa membuat langkahnya menjadi cepat. Saya berharap, ia akan mengalihkan perhatiannya kepada dua orang pendatang baru ini.

Dan akhirnya saya berpapasan dengan dua laki-laki itu. Tubuhnya kekar. Sedikit bau alkohol. Sebentar lagi, mereka pasti akan berpapasan dengannya. Benar saja, sesaat setelah ngobrol, si wanita itu dibopong oleh dua orang. Karena wajahnya menghadap ke belakang, ia sempat melihat kearah saya. Pandangan kami bertemu. Sambil tersenyum genit ia menjulurkan lidahnya kearah saya.

Ini benar-benar pengalaman gila. Di pagi buta. Saat jarum jam hampir menunjukkan pukul lima. (Kascey)

Selanjutnya: Keributan Kecil di Pagi Hari

Melintasi Batas Negara (15): Bersama Sang Merlion

Seru-seruan di depan Patung Merlion. | Foto: Herveen
Seru-seruan di depan Patung Merlion. | Foto: Herveen

Sebelum ini, saya hanya bisa melihat patung Merlion dari layar kaca. Tak pernah terbayangkan, jika kemudian akhirnya saya berada disini. Disebuah tempat yang dikelilingi gedung-gedung tinggi. Sore itu, sang Merlion terlihat eksotis.

Sebagai sebuah landmark Singapura, kita dikatakan belum ke Singapura kalau belum berfoto dengan patung Merlion di Merlion Park. Ini adalah sebuah patung singa besar berbadan ikan setinggi 8,6 meter dengan berat sekitar 70 ton.

Secara etimologi, Mer berarti laut dalam bahasa Perancis dan lion berarti singa dalam bahasa Inggris. Ada juga yang bilang bahwa Merlion berasal dari kata mermaid (ikan duyung) dan lion (singa) yang berarti mahkluk berkepala singa dengan badan menyerupai ikan duyung.

Hari sudah sore ketika kami tiba di Merlion Park. Hujan baru saja turun. Tempat ini terlihat segar.

Saya penasaran. Apa sesungguhnya yang melatarbelalangi keberadan Merlion yang melegenda itu. Penelusuran saya di Google, mempertemukan saya dengan ranselkecil.com, yang mengulas sejarah sang Merlion.

Konon, satu ketika datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa.

Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Memunggungi. | Foto: Herveen
Memunggungi. | Foto: Herveen

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa itu kini menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Saya bahkan membeli cinderamata dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”.

Hanya, sayang, ketika kami mengambil foto di depan Merlion, ia tidak sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”.

Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay. (Kascey)

Dermaga tempat melihat Patung Merlion. | Foto: Kascey
Dermaga tempat melihat Patung Merlion. | Foto: Kascey
Selalu ada senyum didalam kebersamaan itu. | Foto: Herveen
Selalu ada senyum didalam kebersamaan itu. | Foto: Herveen
Dua orang kru tim media
Dua orang kru tim media

Melintasi Batas Negara (14): Kunjungan ke NTUC

Suasana pertemuan dengan NTUC, di Singapura. | Foto: Herveen
Suasana pertemuan dengan NTUC, di Singapura. | Foto: Herveen

Suasana berbeda, saat kami mengunjungi kantor National Trade Union Centre (NTUC). Sebuah gedung yang megah. Setidaknya jika membandingkannya dengan kantor serikat pekerja yang ada di Indonesia.

Aisyah, memandu kami, sebelumnya menceritakan jika dirinya menjadi anggota NTUC. Ia mengaku memiliki banyak manfaat. Bisa mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan NTUC, untuk meningkatkan keahliannya. Bahkan bisa berbelanja di minimarket milik NTUC dengan mendapatkan potongan harga.

Saya penasaran. Ingin mengetahui NTUC dengan lebih dalam.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1961, ketika Singapura Trades Union Congress (STUC) yang didukung Partai Aksi Rakyat (PAP) sukses memegang kendali pemerintahan. Tidaklah mengherankan jika akhirnya hubungan antara PAP dan NTUC sangat dekat. Bahkan sering terjadi, beberapa orang memegang jabatan di kedua organisasi pada saat yang sama. Sebut saja, pendiri NTUC ini, Devan Nair, adalah pendukung PAP dan kemudian menjabat sebagai Presiden Singapura. Ong Teng Cheong, Presiden Singapura pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat adalah Sekretaris Jenderal NTUC. Lim Boon Heng, sekjen sebelumnya, juga anggota parlemen, dan Ketua Partai Aksi Rakyat.

Apa yang dilakukan NTUC, di FSPMI dikenal sebagai go politics. Dimana organisasi mendorong kader-kader terbaiknya untuk duduk didalam keanggotaan DPR, Bupati, Menteri, bahkan satu ketika menjadi Presiden RI. Meskipun demikian, FSPMI tetap ingin menjaga jarak dengan partai politik. Tetap menjadi independent, tetapi tidak netral didalam Pemilu.

Seperti umumnya serikat pekerja, tujuan dibentuknya NTUC adalah untuk meningkatkan status sosial dan kesejahteraan pekerja. Mereka juga menginginkan agar Singapura tetap menjadi negara yang kompetitif dan bisa menekan angka pengangguran.

Saya tidak akan membahas terlebih dahulu apa yang kami dapatkan dari hasil kunjungan ke NTUC. Itu akan saya sampaikan secara terpisah, agar bisa lebih fokus. Kali ini, saya akan menampilkan gambar-gambar serunya kunjungan kami ke NTUC.

Serius mendengarkan. | Foto: Herveen
Serius mendengarkan. | Foto: Herveen
Ketua Umum SPEE FSPMI menyerahkan cidera mata. | Foto: Herveen
Ketua Umum SPEE FSPMI menyerahkan cidera mata. | Foto: Herveen
Sekretaris Jenderal SPEE FSPMI menyerahkan cindera mata. | Foto: Herveen
Sekretaris Jenderal SPEE FSPMI menyerahkan cindera mata. | Foto: Herveen
Kebersamaan yang indah. | Foto: Herveen
Kebersamaan yang indah. | Foto: Herveen
Mengibarkan bendera FSPMI di depan kantor NTUC. | Foto: Kascey
Mengibarkan bendera FSPMI di depan kantor NTUC. | Foto: Kascey
Megahnya kantor NTUC. | Foto: Kascey
Megahnya kantor NTUC. | Foto: Kascey

P1000489