Ini Untukmu, Han

OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Terserah kalian. Mau dibawa kemana tuh masalah. Saya sudah nggak bisa apa-apa. Harta, tenaga, pikiran, semuanya sudah habis. Cuma tinggal ada baju yang nempel di badan, handphone ini, dan motor bodong jelek ini aja. Saya sudah enggak punya apa-apa. Buat makan hari ini aja, saya nggak tahu jual yang mana dulu. Handphone, motor, atau baju yang saya pakai.”

Ini SMS yang engkau kirim kemarin, Han. Jujur saja, aku kaget ketika membacanya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika engkau akan mengirimkan pesan singkat seperti itu kepadaku. Kita memang hanya beberapa kali bertemu. Oleh karena itu, aku tahu, engkau serius. Bukan maksudmu ingin bercanda saat mengirimkan pesan itu kepadaku.

“Pulanglah ke rumah. Agar engkau bisa menghilangkan resah,” jawabku. “Biarlah aku yang akan menyelesaikan semua masalah ini.”

“Rumah siapa? Saya sudah dari hari Senin nggak pulang. Nggak ada yang bisa ngertiin saya. Nggak Anda, nggak yang lain. Semuanya nggak ada yang mau mengerti. Saya sudah ada yang nemenin di pinggir jalan. Air mata. Hanya air mata yang bisa mengertiin saya saat ini.”

Ini hari Kamis. Jika engkau benar, artinya sudah tiga hari dirimu meninggalkan rumah. Terbayang olehku. Dirimu yang kurus itu, kini tengah menangis tersedu. Di satu tempat yang tak kutahu, entah dimana.

Aku mengenalmu, baru beberapa bulan yang lalu. Saat-saat pertama ketika dirimu hendak bergabung dengan serikat pekerja. Kamu masih ingat kan, Han? Aku yakin, dirimu tidak akan pernah melupakan saat-saat awal pertemuan kita.

Dan beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar jika dirimu di PHK.

Aku prihatin dengan apa yang terjadi padamu, Han. Masih lekat dalam telingaku, saat kamu mengutarakan mimpi-mimpi itu.

“Aku ingin menjadi kayawan tetap,” katamu. Saat itu, dirimu mengatakan berberstatus sebagai karyawan harian.

Setelah PHK itu, dirimu goyah. Engkau yang baru lulus sekolah, baru beberapa bulan mampu hidup mandiri tanpa menengadahkan tangan kepada orang tua, kini harus kehilangan semua itu. Sempat kamu bercerita jika orang tuamu marah besar. Menyalahkanmu yang ikut-ikutan mendirikan serikat pekerja.

Kamu selalu beranggapan, jika PHK ini gara-gara dirimu bergabung dengan serikat pekerja. Sejak saat itu, mulailah dirimu menyalahkan siapa saja. Menyalahkan teman-temanmu. Menyalahkan serikat pekerja. Menyalahkan keputusanmu sendiri.

Han, bukankah tidak ada sedikitpun niat dalam hatimu, ketika bergabung dengan serikat pekerja hanya untuk di PHK? Bukankah niat kita begitu hebat: menjadi karyawan tetap, upah layak, dan meretas asa menjadi buruh yang bermartabat. Buruh yang sejahtera.

Ingat kan, Han? Itu niat kita pada awalnya.

Jika kemudian dirimu di PHK, itu adalah bagian dari resiko perjuangan. Ingat, Han. Dirimu juga belum benar-benar di PHK. Kita tidak akan tinggal diam. Kita akan melawan: Dengan sehebat-hebatnya. Sekuat-kuatnya.

“Apakah ada jaminan aku akan dipekerjakan kembali?” Katamu

Aku tersenyum. Kemudian menggeleng. “Tidak ada, Han. Tidak ada yang memberikan jaminan. Satu-satunya jaminan yang bisa aku berikan adalah, kita tidak akan pernah menyerah.”

Kulihat engkau mengangguk. Aku tahu, kini engkau sudah menemukan dirimu kembali. Ini hanyalah soal luar biasa yang sudah biasa.

Ayolah, Han. Kita kembali berjuang….

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Diary Anggota FSPMI

Hingga hari ini, FSPMI tidak pernah berhenti bergerak. Banyak hal sudah dilakukan. Beragam keberhasilan ditorehkan. Setidaknya, di tengah maraknya penggunaan buruh kontrak dan outsourcing seperti sekarang ini, FSPMI hadir memberikan harapan baru akan perubahan.

Satu hal yang harus disadari, FSPMI tetaplah FSPMI, yang tidak mampu menyulap angsa berinduk kuda. FSPMI tetaplah FSPMI, yang tidak mampu menyulap batu menjadi permata. FSPMI bisa menjadi seperti sekarang, karena tumbuhkan kesadaran dan kerelaan para anggotanya untuk ikut berpartisipasi dalam perjuangan. Dibalik semua itu, ada banyak individu yang menggerakkannya. Buruh-buruh sadar yang percaya, bahwa perubahan bisa didapatkan karena adanya partisipasi untuk melakukan perubahan. Tidak serta merta. Continue reading “Diary Anggota FSPMI”

Merayakan Kemenangan

Apa reaksi kita ketika mendapat kabar baik dari seorang kawan? Tentu beragam. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memaknai kebaikan itu. Juga cara mereka untuk mengungkapnya. Satu hal yang pasti, dibutuhkan kerendahan hati untuk ikut juga merasa gembira dengan kesenangan yang sedang dirasakan oleh seorang kawan.

Itulah yang saya rasakan ketika kemarin mendengarkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Serang, terkait dengan perkara Nomor: 07/PHI.G/2012/PN.Srg. Dimana majelis hakim mengabulkan hampir seluruh gugatan kami. Dan tentu saja, sebagai Kuasa Penggugat, saya merasa senang. Continue reading “Merayakan Kemenangan”

5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh

Sampai hari ini saya masih belum bisa mengerti, jika ada pekerja lebih memilih untuk bergabung dengan serikat pekerja yang direkomendasikan oleh pengusaha ketimbang serikat pekerja yang dibentuk murni dari kalangan pekerja. Alasan klasik, untuk menghindar dari resiko yang mungkin terjadi, buat saya terlalu mengada-ada. Apakah mereka hendak menggadaikan martabat dan masa depannya dengan ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan itu: takut di PHK, takut diintimidasi, dikurangi upahnya, takut tidak naik pangkat, takut melarat?

Saya sadar, di negeri ini, membentuk serikat pekerja itu gampang. Keluar dari serikat pekerja lama, dan bergabung dengan serikat pekerja yang lainnya, juga semudah membalikkan telapak tangan. Sama sekali tidak ada masalah dengan hal ini. Jika memang semuanya diniatkan dan didedikasikan untuk kejayaan kaum pekerja. Continue reading “5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh”

Seperti Memakan Buah Simalakama

Kemarin saya mendapat kabar, ada seorang kawan yang dipaksa mundur dari pengurus serikat pekerja oleh pimpinan perusahaan, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Lebih dari itu, dia juga adalah seseorang yang dulu membantunya sehingga bisa bekerja di perusahaan ini. Dan atas nama balas budi itulah, permintaan untuk mundur dari kepengurusan serikat pekerja itu disampaikan. Tentu saja diselingi kalimat tendensius: jika masih ingin menganggap sebagai saudara.

Menggunakan orang-orang terdekat kita, untuk menghalang-halangi kita aktif dalam organisasi serikat pekerja sudah sering terjadi. Bahkan sangat biasa. Oleh karena itu, semestinya kita juga sudah menyadari jauh-jauh hari akan kemungkinan ini, sehingga bisa mengantisipasi. Continue reading “Seperti Memakan Buah Simalakama”