Sebuah Perjalanan, Sebuah Percintaan

Jika tidak disibukkan dengan pekerjaan dan kebetulan punya sedikit tabungan, saya dan istri selalu menyempatkan diri melakukan perjalanan. Tak jarang, kami melakukan perjalanan selama beberapa hari.

Setelah ada anak-anak, Fadlan dan Haya, kami sering melakukannya bersama. Sekeluarga. Ada perasaan tidak nyaman jika kami berjalan, tetapi ada yang tertinggal.

Setiap perjalanan yang kami lakukan selalu menggunakan konsep bacpacker. Kami memilih cara sederhana. Menggunakan fasilitas angkutan umum untuk menjelajah dari satu destinasi ke destinasi berikutnya.

Di stasiun kereta.

Biasanya, tempat-tempat yang hendak dituju pun sudah kami persiapkan jauh-jauh hari. Termasuk masalah penginapan. Perencanaan yang sedemikian rupa, sebab bersama kami ada dua anak kecil yang tidak mau tahu tentang kesulitan di dalam perjalanan.

Sejak awal tahun 2000 ketika kami menetap di Serang, Banten, perjalanan menjadi sesuatu yang akrab bagi kami. May berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Sedangkan saya dari Blitar, Jawa Timur. Itulah sebabnya, sejak sebelum kami dipertemukan, perjalanan sudah menjadi bagian dari hidup kami.

Ya, kami adalah para perantau yang menjejakkan kaki jauh dari kampung halaman.

Akhir 2016 kemarin, misalnya, kami juga juga melakukan perjalanan. Dimulai dari Cirebon, Yogjakarta, hingga ke Semarang. Kami kembali ke rumah awal 2017. Perjalanan setahun: 2016 – 2017.

Foto ini diambil ketika kami berada di Keraton Kasepuhan, Cirebon. Sebuah perjalanan yang kami lakukan pada akhir bulan Desember 2016 lalu.

Bagi saya, perjalanan menjadi semacam cara untuk merayakan cinta.

Jauh dari rumah, tentu saja kita harus semakin erat bergandengan tangan. Saling menjaga dan mencinta. Bahu membahu untuk memastikan sampai di tempat yang dituju dengan selamat. Dan tentu saja, berbahagia bersama.

Senang bisa memberikan banyak pengalaman pada keluarga. Kehidupan yang berwarna. Hari-hari yang tidak itu-itu saja.