Perang Melawan Perbudakan

Jaba GarmindoKemarin, Selasa 8 September 2015, saya menghadiri persidangan di PHI Serang dalam perkara Nomor 18/Pdt.SUS-PHI/2015/PN.Srg. Ini adalah perkara antara Hasanudin dkk (67 orang) melawan PT. Indoseiki Metalutama (Ismu) dan PT. Akita Semesta (Akita). Agenda persidangan adalah mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh pihak Penggugat, Hasanudin dkk.

Tidak tim kuasa hukum. Kurang lebih seratus orang anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) juga hadir dalam persidangan. Mereka memberikan dukungan kepada saksi. Juga semacam pesan, agar pengadilan dalam memeriksa perkara ini berjalan: Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Masa Esa.

Pada mulanya, Hasanudin dkk merupakan karyawan outsourcing dari perusahaan penyedia jasa pekerja, Akita. Karena ditempatkan di bagian produksi, maka pihak pekerja beranggapan hubungan kerja yang semula dengan perusahaan penyedia jasa pekerja berubah menjadi hubungan kerja dengan perusahaan penyedia pekerjaan, dalam hal ini adalah Ismu. Apalagi, beberapa diantara mereka sudah bekerja sejak tahun 2006. Lebih dari 8 (delapan) tahun berstatus outsourcing.

Beberapa aktivis serikat pekerja menyebut, outsourcing merupakan praktek perbudakan di dunia modern. Dan karena ia adalah perbudakan, maka semangat yang dikobarkan adalah, perang melawan perbudakan.

Dan karena ini peperangan, maka pilihan satu-satunya adalah dengan memenangkannya.

Dalam keterangannya, saksi menyampaikan dirinya bekerja di Ismu sejak tahun 2009. Ketika itu, saksi membuat lamaran kerja yang ditujukan kepada Ismu. Tak lama setelah menjalani tes, saksi diterima bekerja di Ismu tanpa perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis. Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2010, saksi diminta menandatangani PKWT dengan Akita.  Tahun 2013, saksi kembali diminta untuk menandatangani PKWT dengan Ismu. Dan pada tahun 2015, saksi di PHK.

Selama bekerja, saksi dipekerjakan di bagian produksi. Bercampur dengan karyawan tetap yang berasal dari Ismu. Bahkan mendapatkan ID Card dan seragam kerja atas nama Ismu.

Ketika saya tanyakan, apakah ada diantara 67 orang yang saat ini mengajukan gugatan ada yang memiliki cerita sama dengan saksi? Melamar ke Ismu tetapi kemudian diminta menandatangani PKWT dengan Akita? Saksi menjawab, ada. Kemudian ia menyebut satu nama.

Semua keterangan saksi semakin menguatkan dalil-dalil yang disampaikan pihak pekerja. Bahwa pekerja dari perusahaan penyedia jasa pekerja tidak boleh ditempatkan di bagian yang berhubungan langsung dengan produksi. Bahwa perusahaan pemborongan harus terpisah dari pekerjaan utama. Tetapi dalam kasus ini, semua ketentuan itu dilanggar. Hampir semua karyawan outsourcing ditempatkan di bagian produksi yang berhubungan langsung dengan kegiatan utama.

Ini bukan tentang Hasanudin dkk yang berjumlah 67 orang.

Ini juga bukan tentang mereka yang bekerja di Ismu.

Tetapi ini tentang nasib buruh outsourcing di Indonesia, yang dipekerjakan tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Perkara ini akan menjadi acuan bagi pekerja di perusahaan lain dalam memperjuangkan kepastian kerja. (*)

Kahar S. Cahyono

5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh

Sampai hari ini saya masih belum bisa mengerti, jika ada pekerja lebih memilih untuk bergabung dengan serikat pekerja yang direkomendasikan oleh pengusaha ketimbang serikat pekerja yang dibentuk murni dari kalangan pekerja. Alasan klasik, untuk menghindar dari resiko yang mungkin terjadi, buat saya terlalu mengada-ada. Apakah mereka hendak menggadaikan martabat dan masa depannya dengan ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan itu: takut di PHK, takut diintimidasi, dikurangi upahnya, takut tidak naik pangkat, takut melarat?

Saya sadar, di negeri ini, membentuk serikat pekerja itu gampang. Keluar dari serikat pekerja lama, dan bergabung dengan serikat pekerja yang lainnya, juga semudah membalikkan telapak tangan. Sama sekali tidak ada masalah dengan hal ini. Jika memang semuanya diniatkan dan didedikasikan untuk kejayaan kaum pekerja. Continue reading “5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh”

Dukungan untuk Perubahan

Saya selalu mengatakan kepada kawan-kawan, bahwa musim hujan adalah hari yang menyenangkan. Setidaknya, inilah saat bagi petani untuk menanam padi. Lihatlah bagaimana petani tadah hujan di sekitaran kawasan industri Serang Timur, yang mulai menggarap sawahnya saat hujan tiba. Memang ada banjir dimana-mana, buat saya, itu adalah peringatan keras agar kita lebih mencitai alam.

Saat saya mengatakan ini kepada Dr. Zukieflimansyah dalam sebuah kesempatan berdialog di Perum Bumi Cikande Permai, ia juga memberikan persetujuan. Hujan, katanya, mengingatkannya akan keriangan di masa kecil. “Hujan membuat saya memiliki alasan untuk tidak pergi ngaji,” ucapnya yang disambut tawa hadirin yang lain. Continue reading “Dukungan untuk Perubahan”

Sebuah Pengantar: FSBS ada di Facebook!

Beberapa teman Fb saya menanyakan tentang keberadaan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS), yang sering saya sebut dalam tulisan-tulisan di blog personal saya. “Apa tidak memiliki web, blog, atau akun facebook gitcu?” Ini adalah salah satu pertanyaan yang sempat nyasar ke inbox saya.

Hingga saat ini, pertanyaan itu belum saya jawab. Nyatanya, FSBS beberapa kali membuat blog (atau tepatnya saya pribadi yang bikin dan mengatasnamakan FSBS), tetapi selalu berhenti di tengah jalan karena tidak terurus. Alasannya sederhana. Selalu ada alasan untuk tidak meng-update kegiatan yang dilakukan FSBS. Sibuk-lah, enggak sempat nulis-lah, dan sederet alasan lain. Continue reading “Sebuah Pengantar: FSBS ada di Facebook!”

Gadis

Lagi-lagi, saya harus mengacungkan jempol kepada gadis ini. Usianya belum genap dua puluh tahun. Masih muda, tentu saja. Dan dalam usia itu, dalam setahun terakhir, ia sudah menjadi karyawan di sebuah perusahaan dengan status kontrak.

Do`i orangnya sederhana, ini kesan yang saya tangkap saat ia menghadiri sebuah diskusi bertajuk politik dan demokrasi yang diselenggarakan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Dan kesan itu semakin dalam, saat dalam beberapa kesempatan saya berdiskusi dengan si gadis.

Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Setidaknya, inilah pengakuannya. Mirip dengan saya. Hanya, bedanya, semua adik-adiknya adalah perempuan. Sedangkan saya hanya memiliki satu adik perempuan, dan itupun sudah almarhum. Continue reading “Gadis”

Peran Serikat Buruh dalam Globalisasi

Pada akhirnya, saya hendak mengatakan, bahwa globalisasi adalah keniscayaan. Hari ini yang dibutuhkan peningkatan kemampuan, agar kita cukup kuat bersaing di arena globalisasi. Tanpa itu, bangsa ini hanya akan berada di pinggiran. Ada keseriusan dan sikap politik yang tegas, untuk mengurangi dampak buruk yang diakibatkannya.

Ibarat air bah, percuma rasanya kalaupun kita menghalangi kehadirannya. Sebab, kehadiran globalisasi didorong oleh; (a) Berakhirnya konfrontasi antara blok barat dengan blok timur (Kapitalisme vs Komunisme); (b) Paradigma neo liberalisme (Penganut neo liberalisme berpendapat bahwa pasar terbuka dan persaingan ekonomi merupakan cara terbaik untuk menciptakan kekayaan dan kesempatan setiap orang; (C) Meningkatnya liberalisasi ekonomi; (d) Teknologi-teknologi baru memfasilitasi logistik transportasi dan informasi; (e) Munculnya negara-negara industri baru dalam perekonomian global (Singapur, Korea Selatan, Cina, India, Afrika Selatan, dsb.); dan (f) Peran aktif organisasi perdagangan dunia (WTO), Internasional Moneter Fund (IMF) dan Bank Dunia. Continue reading “Peran Serikat Buruh dalam Globalisasi”

Buruh Dalam Sergapan Globalisasi

Ini tentang globalisasi. Awalnya, meskipun sering mendengar kata-kata ini sering disebut-sebut, saya tidak begitu ambil peduli. Buat saya yang tinggal di kampung kecil bernama Jempling yang terletak di pinggiran Kawasan Industri Modern Cikande, globalisasi jelas bukan menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Pendek kata, globalisasi lebih sering disebut dalam ruang seminar daripada menjadi kesadaran masyarakat secara umum.

Namun, saat beberapa waktu lalu saya hadir menjadi pembicara dalam Dialog Publik tentang Aliansi Serikat Pekerja Lokal dan Launcing Buku Buruh Bergerak di Jakarta Design Center (JDC), Anwar `Sastro`dari Perhimpunan Rakyat Pekerja, yang duduk disamping saya beberapa kali menyinggung soal dampak globalisasi bagi pekerja/buruh. Continue reading “Buruh Dalam Sergapan Globalisasi”

Pengangguran di Serang Mencapai 119.600 Orang

Pengangguran. Kata-kata ini sungguh tidak enak di dengar. Jangankan bagi mereka yang menganggur. Kita – atau setidaknya saya – merasa sangat tidak nyaman apabila mendengar kata yang satu ini disebut. “Pengangguran”. Buat saya adalah akar dari segenap permasalahan sosial yang mendesak untuk dicarikan jelan keluar.

Hanya, memang, kali ini saya tertarik untuk membahas tentang pengangguran ketika mengetahui Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Serang, Din Komarudin mengungkapkan, sebanyak 14,95 persen atau sebanyak 119.600 orang dari sekira 800.000 warga usia produktif (warga yang berusia 15 sampai 65 tahun) di Kabupaten Serang menjadi pengangguran. “Ini hasil survei angkatan kerja nasional 2010,” kata Din, Selasa (12/10). Continue reading “Pengangguran di Serang Mencapai 119.600 Orang”

“Jika terus-terusan kampung halaman kami dicemari, kami harus hidup dimana lagi?”

Saya tidak habis mengerti, bahkan hingga hari ini. Saat menyaksikan masih ada saja perusahaan yang tega mencemari lingkungan. Mungkin anda akan bilang, bahwa ini sudah lazim terjadi. Sudah menjadi rahasia umum, sehingga terdengar basi jika dibicarakan lembali.

Dan persis, disitulah letak ketidakmengertian saya. Saat banyak element menyatakan perang terhadap perusak lingkungan, namun pada saat yang sama, mereka yang melakukan kegiatan-kegiatan tidak ramah lingkungan ternyata juga tak kalah jumlah.

Dua hari lalu, misalnya, saya tak bisa banyak berucap saat menyaksikan ratusan warga Kecamatan Jawilan menduduki perusahaan pestisida PT Centra Brasindo Abadi (CBA) Raya di Desa Majasari, Kecamatan Jawilan – Kabupaten Serang, pada hari Senin (11 Oktober 2010). Aksi itu sendiri sebagai bentuk protes terhadap perusahaan yang diduga tidak bertanggung jawab atas tercemarnya Sungai Cibeureum yang mengakibatkan tanaman mati dan menimbulkan penyakit. Continue reading ““Jika terus-terusan kampung halaman kami dicemari, kami harus hidup dimana lagi?””