Ingatkan Pemerintah Atas Pelanggaran Undang-undang, Malah Dibilang Rasis

11947426_1182854435064052_8993038925740936468_nSalah satu tuntutan dalam aksi #BuruhKepungIstana pada tanggal 1 September 2015 adalah menolak masuknya tenaga kerja asing “dalam kategori tanpa keahlian” di Indonesia. Penolakan ini didasarkan pada keprihatinan terhadap banyaknya buruh Indonesia yang ter-PHK, sementara para pekerja asing seperti disediakan karpet merah untuk bisa bekerja di Negeri ini.

Untuk menyebut satu contoh perusahaan yang mempergunakan tenaga kerja asing adalah PT Cemindo Gemilang, di Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dalam berita yang diturunkan detik.com (9/9/2015) perusahaan ini mampu memproduksi 14 juta sak semen dalam setahun dengan nilai investasi USD 600 juta. Ada 274 pekerja asing yang saat ini bekerja di perusahaan itu.

Ketika ditanya Fahri (Wakil Ketua DPR RI), pekerja Tiongkok tak bisa berbahasa Indonesia dan Inggris.

Penyebutan kata “Tiongkok” hanya semata-mata karena mereka berasal dari sana. Bukan sebuah penegasan atas sebuah sikap, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Kalau saja mereka berasal dari Jepang, tentu akan lain penyebutannya. Meskipun demikian, ada saja yang mengatakan penolakan terhadap pekerja asing dalam kategori unskilled workers yang bekerja di Indonesia itu adalah sikap rasis.

Terhadap anggapan itu tentu harus diluruskan.

Bagi FSPMI-KSPI, penolakan terhadap tenaga kerja asing adalah kritik atas kebijakan Pemerintah yang melanggar ketentuan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Rasanya perlu ditegaskan, yang kita tolak adalah tenaga kerja asing dalam kategori unskilled workers. Juga, yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Hal ini secara jelas disampaikan KSPI dalam spanduknya sebagaimana terlihat dalam gambar: “TOLAK PEKERJA ASING Atau Wajibkan Pekerja Asing Berbasaha Indonesia.” Mengapa harus begitu? Karena ketentuannya mengatur demikian.

Dalam BAB VIII mengenai PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING sudah diatur mengenai kritieria tenaga kerja yang dapat dipekerjakan di Indonesia. Disana disebutkan, penggunaan tenaga kerja asing dilaksanakan secara selektif dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja Indonesia secara optimal. Bukan seperti yang terjadi saat ini, pintu bagi masuknya tenaga kerja asing dibuka selebar-lebarnya. Dalam hal ini, temuan Fahri soal pekerja Tiongkok yang tidak bisa berbahasa Indonesia, mengkonfirmasi adanya pelanggaran itu.

Kepmenaker Nomor KEP- 20/MEN/III/2004 tentang Tata Cara Memperoleh Ijin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing juga dengan tegas dikatakan, tenaga kerja asing yang dipekerjakan wajib memenuhi persyaratan, bisa berbahasa Indonesia. Tentu tidak hanya itu syaratnya. Mereka juga harus memenuhi kewajiban mengenai standar kompetensi, yaitu kualifikasi yang harus dimiliki oleh tenaga kerja warga negara asing antara lain pengetahuan, keahlian, keterampilan di bidang tertentu, dan pemahaman budaya Indonesia.

Disebutkan, pemberi kerja asing wajib menunjuk tenaga kerja warga negara Indonesia sebagai tenaga pendamping tenga kerja kerja asing yang dipekerjakan untuk alih teknologi dan alih keahlian dari tenaga kerja asing. Hal ini dilakukan, agar tenaga kerja pendamping tersebut dapat memiliki kemampuan sehingga pada waktunya diharapkan dapat mengganti tenaga kerja asing yang didampinginya. Apabila para tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia tidak memiliki keahlian sebagaimana tersebut, bagaimana mungkin akan terjadi alih teknologi dan alih keahlian? Sedangkan jumlah pencari kerja jumlahnya membludak, yang rasanya, bisa dipenuhi tanpa harus mendatangkan tenaga kerja asing.

Begitulah sikap kita. Bukan didasarkan atas kebencian, apalagi sentimen terhadap ras tertentu. Sebagai anggota IndustriALL Global Union yang beranggotakan kurang lebih 50 juta pekerja di 140 negara, tentu FSPMI percaya, kaum buruh sedunia harus bersatu. Kita sedang mengingatkan kepada pemerintah, bahwa saat ini sudah lebih dari 50 ribu pekerja di PHK. Jutaan orang menganggur. Tetapi mengapa tenaga kerja asing dalam kategori unskilled workers seperti diberi kemudahan untuk bekerja di negeri ini? (*)

Tulisan ini pernah dipublikasikan disini:

Ingatkan Pemerintah Atas Pelanggaran Undang-undang, Malah Dibilang Rasis

Perang Melawan Perbudakan

Jaba GarmindoKemarin, Selasa 8 September 2015, saya menghadiri persidangan di PHI Serang dalam perkara Nomor 18/Pdt.SUS-PHI/2015/PN.Srg. Ini adalah perkara antara Hasanudin dkk (67 orang) melawan PT. Indoseiki Metalutama (Ismu) dan PT. Akita Semesta (Akita). Agenda persidangan adalah mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh pihak Penggugat, Hasanudin dkk.

Tidak tim kuasa hukum. Kurang lebih seratus orang anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) juga hadir dalam persidangan. Mereka memberikan dukungan kepada saksi. Juga semacam pesan, agar pengadilan dalam memeriksa perkara ini berjalan: Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Masa Esa.

Pada mulanya, Hasanudin dkk merupakan karyawan outsourcing dari perusahaan penyedia jasa pekerja, Akita. Karena ditempatkan di bagian produksi, maka pihak pekerja beranggapan hubungan kerja yang semula dengan perusahaan penyedia jasa pekerja berubah menjadi hubungan kerja dengan perusahaan penyedia pekerjaan, dalam hal ini adalah Ismu. Apalagi, beberapa diantara mereka sudah bekerja sejak tahun 2006. Lebih dari 8 (delapan) tahun berstatus outsourcing.

Beberapa aktivis serikat pekerja menyebut, outsourcing merupakan praktek perbudakan di dunia modern. Dan karena ia adalah perbudakan, maka semangat yang dikobarkan adalah, perang melawan perbudakan.

Dan karena ini peperangan, maka pilihan satu-satunya adalah dengan memenangkannya.

Dalam keterangannya, saksi menyampaikan dirinya bekerja di Ismu sejak tahun 2009. Ketika itu, saksi membuat lamaran kerja yang ditujukan kepada Ismu. Tak lama setelah menjalani tes, saksi diterima bekerja di Ismu tanpa perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis. Satu tahun kemudian, tepatnya tahun 2010, saksi diminta menandatangani PKWT dengan Akita.  Tahun 2013, saksi kembali diminta untuk menandatangani PKWT dengan Ismu. Dan pada tahun 2015, saksi di PHK.

Selama bekerja, saksi dipekerjakan di bagian produksi. Bercampur dengan karyawan tetap yang berasal dari Ismu. Bahkan mendapatkan ID Card dan seragam kerja atas nama Ismu.

Ketika saya tanyakan, apakah ada diantara 67 orang yang saat ini mengajukan gugatan ada yang memiliki cerita sama dengan saksi? Melamar ke Ismu tetapi kemudian diminta menandatangani PKWT dengan Akita? Saksi menjawab, ada. Kemudian ia menyebut satu nama.

Semua keterangan saksi semakin menguatkan dalil-dalil yang disampaikan pihak pekerja. Bahwa pekerja dari perusahaan penyedia jasa pekerja tidak boleh ditempatkan di bagian yang berhubungan langsung dengan produksi. Bahwa perusahaan pemborongan harus terpisah dari pekerjaan utama. Tetapi dalam kasus ini, semua ketentuan itu dilanggar. Hampir semua karyawan outsourcing ditempatkan di bagian produksi yang berhubungan langsung dengan kegiatan utama.

Ini bukan tentang Hasanudin dkk yang berjumlah 67 orang.

Ini juga bukan tentang mereka yang bekerja di Ismu.

Tetapi ini tentang nasib buruh outsourcing di Indonesia, yang dipekerjakan tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Perkara ini akan menjadi acuan bagi pekerja di perusahaan lain dalam memperjuangkan kepastian kerja. (*)

Kahar S. Cahyono

Hari Ke-2: Kisah Yang Ditulis Enam Orang Buruh Jaba

Dari semalam, instruksi untuk kembali merapat ke Jaba kembali dikeluarkan. Bank MNC dan SBI berencana mengeluarkan asset yang sudah terjual, setelah hari Jum`at yang lalu gagal.

Di tengah-tengan situasi yang tidak menentu inilah penulisan kisah tentang Jaba dilakukan. Ada debar. Juga getar. Apalagi ketika semakin jauh meresapi pengalaman mereka.

Saya mengawali pekerjaan ini dengan memeriksa tulisan tangan dari 6 orang buruh Jaba yang diserahkan kepada Tim Media FSPMI Tangerang.

Dalam kenangan buruh-buruhnya, di awal bekerja, Jaba menjadi kebanggaan. Bisa jadi, ini masa-masa paling indah dalam hidup mereka. Bukan saja tentang banyaknya lemburan yang mereka dapatkan. Tetapi, juga, ribuan karyawan yang sebagian besar perempuan itu sedang ranum-ranumnya. Dengan berseragam biru muda dan rok sebatas lutut, konon mereka menjadi primadona. Masa muda yang berapi-api. Yang kata Sheila, “Kau raja aku pun raja….”

Dulu, karena tidak diperbolehkan menggunakan jilbab, begitu sampai di perusahaan, ada yang ketika berangkat dari rumah mengenakan jilbab. Kemudian ketika sampai, dengan terpaksa melepaskan jilbabnya di kantin perusahaan. Setelah pulang, di pojok kantin itu, dengan hati yang teriris ia menggunakan jilbabnya kembali.

Menariknya, mereka memiliki tradisi melawan. Dan perlawanan itu semakin menjadi, ketika mereka bergabung dengan FSPMI. Yang kemudian membuat mereka mampu bertahan lebih dari 6 bulan di tenda perjuangan, meski sudah tidak lagi digaji.

Diijak, dipukuli, diseret, bahkan dihujani gas air mata pernah mereka alami. Bukan sekali dua kali, di tengah malam ketika mereka berada di dalam tenda, hujan disertai angin dan petir. Dalam kondisi seperti itu, tak banyak pilihan sebagai tempat untuk berteduh. Tak ada kasur dan selimut untuk berlindung dari hawa dingin.

Saya kira, itulah benang merah dari apa yang ditulis oleh 6 orang yang saya sampaikan tadi. Setelah saya tuliskan kembali, menjadi tulisan sepanjang 1.464 kata. Dalam bayangan saya, Setelah dikembangkan dan ditambahkan dengan hasil wawancara untuk memperkaya informasi, jumlah itu akan menjadi 3-5 kali lipatnya.

Awal yang baik….

Hari Ke-1: Menulis Jaba

foto (8)Kemarin, Rapat Akbar FSPMI se-Provinsi Banten diselenggarakan di Jaba Garmindo. Presiden FSPMI Said Iqbal hadir dalam rapat sore itu. Melalui orasinya yang selalu berapi-api, dia memberikan penjelasan tentang isu perjuangan FSPMI tahun 2015-2016: JAMPETUM + K3. Sebuah pertemuan yang dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi, jelang aksi nasional 1 September 2015.

Saya tak akan menulis tentang apa makna JAMPETUM + K3. Kali ini, saya lebih tertarik untuk menulis tentang Jaba. Sebuah kata yang akhir-akhir ini sering kita sebut ketika hendak mencari tempat untuk melakukan konsolidasi.

Saya memaknai Jaba sebagai tempat yang didalamnya tersimpan beribu kenangan. Kenangan selama lebih kurang 30 tahun buruh-buruh disini mengabdikan dirinya. Dan meskipun waktu 30 tahun bukanlah durasi yang lama dibandingkan dengan sejarah peradapan umat manusia, tetapi dalam rentang waktu itu penuh dengan cerita. Tawa dan air mata.

Dan pada pada saat yang bersamaan, dari tempat ini memancarkan sejuta harapan. Harapan tentang terkabulnya semua do`a yang dipanjatkan dari tenda-tenda perjuangan. Harapan tentang terpenuhinya sebuah janji: “Bahwa kita akan memenangkan pertarungan ini.”

Berbicara tentang Jaba, saya kembali teringat dengan tulisan beberapa kawan yang melukiskan kisahnya selama bekerja disini. Tim Media, beberapa waktu lalu meminta agar kawan-kawan Jaba menceritakan pengalamannya selama berada di tenda perjuangan. Selain untuk mengisi waktu, ini dimaksudkan agar uneg-uneg mereka keluar.

Kawan saya, Kiki, sudah beberapa kali menyampaikan jika ia sudah mengumpulkan foto tentang perjuangan kawan-kawan Jaba. Kami sepakat pada satu hal, “Suka duka selama 6 bulan lebih berada di tenda perjuangan harus terdokumentasikan.” Namun karena kami memiliki kesibukan masing-masing, selalu bingung darimana hendak memulai proyek ini.

Maka pagi ini saya putuskan, terhitung hari ini saya akan mulai menuliskan kisah tentang Jaba. Targetnya, buku ini akan selesai dalam 60 hari kedepan. Saya tak tahu, apakah hingga 24 Oktober 2015 nanti akan ada cukup waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi saya tahu, jika tak memulai, maka tak akan pernah sampai.

Meniru apa yang pernah dilakukan Dee ketika menulis Perahu Kertas, saya akan melaporkan hari demi hari perkembangan proyek penulisan ini.

Dan akhirnya, saya hanya bisa berharap pada diri sendiri, semoga konsistensi saya terjaga…

Bercerita Tentang Bekasi

Saya,Presiden FSPMI Said Iqbal dan seorang kawan dari Batam sedang memamerkan buku 'Cerita Dari Bekasi'.
Saya,Presiden FSPMI Said Iqbal dan seorang kawan dari Batam sedang memamerkan buku ‘Cerita Dari Bekasi’.

Di Batam, Kepulauan Riau, April 2014.

Saya membawa ‘Cerita dari Bekasi’ kesana. Buku ini mengisahkan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang, saat buruh Indonesia melakukan mogok nasional di tahun 2013. Buku ini berhasil mengajak lebih banyak orang untuk mengetahui tragedi kemanusiaan, yang nyaris tak terliput oleh media massa.

Begitulah cara saya mengabadikan sebuah peristiwa. Mengajak orang lain, di belahan bumi yang lain, untuk terlibat dan memberikan perhatian pada sebuah kejadian yang tak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan.

Membaca kembali buku ini, peristiwa yang sekian lama berlalu itu masih saja terasa baru. Semacam dendam yang menerbitkan tekad, hal semacam ini tidak boleh lagi terulang. Kepada siapapun. Di manapun.

Bagaimana Saya Menulis?

IMG_5385Foto ini diambil di Mojokerto. Disela-sela perjalanan saya ke Jawa Timur, pada September 2014 yang lalu. Adapun lokasi pengambilan gambar, tepatnya di markas bung Ardian.

Ketika itu pose kami sambil memamerkan buku yang saya tulis, Sepultura. Kisah tentang sekelompok pekerja/buruh yang memperjuangkan sepuluh tuntutan buruh dan rakyat, dalam konteks pemilihan presiden. Sesuatu yang kemudian semakin membulatkan tekad sebagian kawan, tentang pentingnya buruh memiliki alat politiknya sendiri.

Bagaimana saya menulis? Pertanyaan seperti ini sering dikirimkan melalui pesan dalam Fb saya. Apalagi ketika beberapa saat yang lalu, saya mengumumkan akan segera terbitnya buku terbaru saya, “Sebuah Panduan Dalam Menyelesaikan Perselisihan PHK”.

Sampai saat ini, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai terapi disaat senggang. Semacam cara untuk mengeluarkan beban pikiran. Sebab apabila yang ada dalam pikiran tidak segera dikeluarkan menjadi kata-kata, bisa jadi sudah lama saya sakit jiwa. Apalagi dengan banyaknya aktivitas, yang terkadang satu sama lain tidak berhubungan.

Maka anggapan bahwa untuk bisa menulis kita harus fokus 24 jam di depan komputer tidaklah benar. Saya sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk menghadiri konsolidasi, terlibat dalam tim advokasi, ikut aksi, dan memberikan pelatihan. Toh sejauh ini sudah menulis lebih dari 15 judul buku.

Dan karena tidak benar-benar memfokuskan diri untuk menulis, ada beberapa buku “pesanan” yang masih belum selesai. Diantaranya adalah buku tentang sejarah perjuangan KAJS dalam melahirkan BPJS, dan kisah perlawanan GEBER BUMN dalam upaya melawan outsourcing di perusahaan-perusahaan plat merah. Milik negara.

Jika saya mengatakan ini, bukan berarti hendak menyombongkan apa yang telah saya capai. Sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa siapapun bisa melakukannya.

Apalagi saya lihat, banyak kawan yang rajin memosting aktivitas dan gagasannya di Fb. Jika dikumpulkan, dalam kurun waktu satu tahun saja sudah bisa menjadi bahan dasar dalam menerbitkan buku.

Aktivis harus menulis. Karena itulah yang akan membuat gagasanmu tetap hidup, meski nyawa sudah tidak lagi dikandung badan.

HENTIKAN KERAKUSAN KORPORASI

Aksi buruh Jaba Garmindo di depan Bank UOB Indonesia. Rabu, 17 Juni 2015
Aksi buruh Jaba Garmindo di depan Bank UOB Indonesia. Rabu, 17 Juni 2015

Dalam peringatan hari buruh Internasional tanggal 1 Mei 2015 yang lalu, International Trade Union Confederation (ITUC) mengangkat tema “End Corporate Greed”. Kampanye global di seluruh dunia itu membawa satu suara: AKHIRI KERAKUSAN KORPORASI.

Baiklah, itu di tingkat dunia. Bagaimana dengan konteks Indonesia?

Banyak contoh yang bisa disampaikan. Tetapi saya akan memulai dari sepucuk surat yang diterima buruh PT Jaba Garmindo pada tanggal 7 Mei 2015. Surat dari Kurator PT Jaba Garmindo (dalam pailit) dan Djoni Gunawan (dalam pailit) itu menyatakan, pemutusan hubungan kerja terhadap seluruh buruh PT Jaba Garmindo (dalam pailit) pada waktu 45 hari sejak tanggal surat pemberitahuan. Buruh hanya bisa pasrah. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, Pengadilan Niaga sudah mengetok palu.

Langkah selanjutnya adalah memastikan hak-hak buruh atas perusahaan yang pailit didapatkan. Dengan adanya surat Kurator tertanggal 7 Mei 2015, itu artinya, hingga tanggal 22 Juni 2015 buruh PT Jaba Garmindo masih memiliki hak atas yang biasa mereka terima. Perlu diketahui, sejak bulan Februari, pembayaran upah mereka sudah dihentikan.

Setelah itu, kabar lain datang menghampiri. Selama masa insolvensi, PT Bank UOB Indonesia mengajukan lelang eksekusi hak tanggungan atas asset PT Jaba Garmindo. Lelang pertama dilakukan oleh KPKNL Jakarta 1, pada tanggal 18 Juni 2015. Sedangkan lelang kedua dilakukan di Cirebon, melalui KPKNL Cirebon, tanggal 19 Juni 2015.

Buruh PT Jaba Garmindo melakukan aksi unjuk rasa pada hari dimana lelang itu dilakukan, baik di Jakarta maupun di Cirebon. Mereka meminta agar KPKNL membatalkan lelang. Tetapi lelang tidak bisa dihentikan. KPKNL berdalih, pelaksanaan lelang sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang.

Pada saat yang sama, buruh pun berpedoman pada ketentuan. Adalah Mahkamah Konstitusi, dalam putusannya nomor 67/PUU-XI/2013 menyatakan, “pembayaran upah pekerja/buruh yang terhutang didahulukan atas semua jenis kreditur termasuk atas tagihan kreditur separatis, tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk Pemerintah.”

Tetapi kita tahu. Begitu menyangkut “orang kecil”, semua aturan hukum hanya indah di atas kertas.

Sebenarnya ada secercah harapan ketika dalam pertemuan di KPKNL Cirebon, ada kesepakatan jika pembahasan mengenai pembayaran upah dan THR dilakukan selambat-lambatnya pada tanggal 26 Juni 2015. Tetapi itu semua hanya omong kosong belaka. Hingga saat ini, Bank UOB Indonesia masih tidak mau berbagi terkait hasil penjualan aset, baik yang di lelang melalui KPKNL Jakarta 1 maupun KPKNL Cirebon.

Beredar kabar: UOB yang mempailitkan. UOB yang mengajukan lelang. UOB pula yang melakukan pembelian. Dan buruh, yang konon upahnya harus dibayar sebelum keringatnya kering, tidak mendapatkan apa-apa.

End Corporate Greed! Seruan untuk menghentikan kerakusan itu bergema disini. Bagi Bank UOB, masih ada sumber lain untuk bertahan. Sedangkan bagi buruh, upah adalah satu-satunya sumber mempertahankan hidup bagi diri dan keluarganya. Itulah mengapa, buruh akan terus melawan…

Setelah hari Jum`at, 3 Juli 2015 yang lalu melakukan pemanasan, hari Senen besok buruh kembali melakukan aksi besar di Bank UOB Indonesia. Dan jika tidak dipenuhi, buruh Jaba Garmindo yang mayoritas perempuan itu siap menginap disana, untuk masa waktu yang tidak ditentukan….

Menang Lomba Menulis, Saya Diajak Mengikuti Kunjungan Buruh Migrant ke Hongkong

Saya bersyukur, tulisan saya ‘Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki’ terpilih sebagai pemenang lomba menulis blog dengan tema, apakah yang kamu pikirkan tahu dan lihat dari buruh Migran? Lomba menulis ini diselenggarakan oleh Melanie Subono dan blogdetik. Sedangkan penilaian, dilakukan secara cermat oleh Melanie Subono dan tim juri Migrant Care.

Untuk itu, pada tanggal 15-19 Mei 2015 saya diajak ke Hongkong. Mengikuti kunjungan buruh Migrant bersama Melanie Subono. Tiket PP Jakarta-Hongkong-Jakarta, Akomodasi, Konsumsi dan uang saku Rp 500 ribu per hari, disediakan oleh panitia.

Informasi bahwa tulisan saya terpilih sebagai pemenang, saya ketahui dari komentar pembaca yang masuk ke email. Ketika itu saya dalam perjalanan ke Jakarta, menghadiri rapat penyusunan materi pendidikan politik di KSPI. Dengan berdebar, saya membuka blogdetik. Ternyata benar, tulisan saya terpilih sebagai pemenang. Sesaat ketika saya sampai di KSPI, istri saya menelpon dan memberitahukan kabar yang sama.

Sejak mengetahui informasi lomba menulis tentang buruh migran, saya sudah memastikan untuk ikut. Dalam 13 tahun terakhir ini, saya aktif dalam gerakan buruh. Apalagi, sejak kecil, saya sering mendengar ada orang yang mengadu nasib ke luar negeri, sebagai TKW/TKI, hanya karena tidak ada lapangan pekerjaan yang tersedia di negeri ini. Belakangan saya tahu, teman-teman saya ketika kecil, banyak yang merantau ke Negeri orang. Bayangan itulah yang selalu berkelebat dalam benak saya, yang kemudian saya konstruksikan ulang dalam sebuah tulisan.

Tentu saja, nanti saya akan membuat tulisan dari perjalanan ini. Berharap suara-suara yang selama ini “terbungkam” akan terdengar kencang, menembus dinding kekuasaan.

Jujur saja, kemenangan ini memotivasi saya untuk terus menulis. Untuk menyuarakan suara hati kaum yang tertindas. (*)

Bertaruh Nyawa Demi Keluarga

Aksi solidaritas menolak hukuman mati. (Doc: Maxie)
Aksi solidaritas menolak hukuman mati: “Hentikan Eksekusi Beruntun Terhadap Buruh Migran Indonesia.” (Doc: Maxie)

Saya lahir di Blitar, Jawa Timur.

Blitar menjadi salah satu daerah yang paling banyak mengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Sejak kecil saya sudah terbiasa melihat tetangga saya yang terpaksa mengambil pilihan sulit itu. Bahkan teman saya di sekolah menengah pertama, Desi, tak kuasa menolak menjadi buruh migran. Padahal otaknya cemerlang, di sekolah selalu menjadi bintang.

Menjadi buruh migran bukan cita-cita Desi. Kepada saya, ia pernah berkata bahwa cita-citanya adalah ingin menjadi Arsitek. Saya juga tahu dengan persis, tetangga-tetangga saya itu, tidak ada satu pun yang awalnya bercita-cita menjadi buruh migran.

Siapa yang mau pergi ke luar negeri, sedangkan dia tidak tahu bahasa yang digunakan disana? Siapa mau berpisah dengan keluarga dalam waktu yang lama dan beberapa diantaranya pulang tinggal nama?

“Nggak apa-apa saya pergi. Do’akan saja. Ini semua demi keluarga,” inilah jawaban yang pernah saya dengar ketika salah seoarang tetangga saya akan berangkat ke Taiwan. Demi keluarga mereka rela bertaruh nyawa dengan mencari peruntungan di negeri orang. Banyaknya buruh migran yang tersangkut kasus hukum, beberapa diantaranya bahkan sudah menjalani vonis mati, tak membuat niatnya goyah. Lagi-lagi, demi keluarga.

Tahun 2002, saya pun menjadi buruh migrant. Bedanya, saya melakukan migrasi dari tempat kelahiran di Blitar dan menetap dalam waktu yang lama di Serang, Banten. Ini memang berbeda dengan tetangga saya yang bekerja ke luar negeri (internasional). Tetapi alasannya sama: tidak banyak pekerjaan yang bisa saya dapatkan di Blitar.

Di Serang, Banten, ternyata saya juga bertemu dengan masyarakat yang menjadi TKI/TKW ke luar negeri. Padahal daerah ini dikenal sebagai daerah industri. Tangerang, masih satu provinsi dengan Serang, bahkan dijuluki sebagai kota dengan seribu industri. Tetapi mengapa mereka harus pergi ke luar negeri hanya untuk menjadi buruh?

Sejak saat itu saya sadar, berbicara tentang buruh migran tidak hanya bicara tentang kedaerahan. Ini bukan tentang Blitar atau Serang. Berbicara tentang buruh migrant adalah berbicara tentang Indonesia. Tentang kita semua: saya dan anda.

Di Serang dan Tangerang, yang notabene daerah industri, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Pabrik-pabrik baru terus dibangun, tetapi kemudian yang menjadi tenaga kerja disana bukanlah mereka yang kebanyakan berpendidikan rendah.

Sementara hidup harus tetap berlanjut. Jadi bukan karena tidak cinta dengan negeri sendiri, kalau akhirnya mereka memilih menjadi buruh migran ke luar negeri.

Diluar itu, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Saya tidak tahu, mereka sengaja dikorbankan atas nama tanggungjawab keluarga. Ataukah karena pengaruh patriarkhi, bahwa perempuan adalah makhluk manis yang penurut. Buruh identik dengan orang yang gampang disuruh-suruh, dan perempuan dianggap sebagai orang yang tidak gampang mengeluh.

Itulah yang mendorong saya pada tahun 2010 yang lalu memprakarsasi penulisan buku ‘Bicaralah Perempuan’. Ketika itu, saya mengundang perempuan-perempuan Indonesia untuk menyuarakan berbagai kekerasan terhadap perempuan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Setidaknya 16 (enam belas) orang perempuan ikut andil dalam penulisan buku yang sekaligus dimaksudkan untuk “Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” bersama-sama dengan Komnas Perempuan dan Forum Solidaritas Buruh Serang.

Beberapa penulisnya adalah buruh migran yang bekerja di Hongkong dan Malaysia. Saya memang tidak pernah kesana, tetapi membaca tulisan mereka, saya menjadi tahu betapa hebatnya perjuangan mereka untuk tetap berdiri tegak sebagai seorang manusia.

Ketika mendengar ada buruh migran yang dituduh membunuh majikannya, saya tak yakin mereka memiliki niat untuk membunuh. Dalam hal ini, saya selalu teringat dengan kata-kata itu, “Demi keluarga…” Mereka pergi dengan sepenuh cinta untuk kelurganya. Untuk anak-anaknya. Sembari berjanji satu saat nanti akan kembali. Tak mungkin memiliki niat keji, jika terlebih dahulu tak disakiti.

Maka, sekali lagi, ini permasalahan kita sebagai bangsa. Itulah sebabnya, penolakan hukuman mati terhadap buruh migran Indonesia bukan hanya tanggungjawab sekelompok orang dengan aksi-aksi di jalanan. Semestinya negara turun tangan, berdiri di garda depan untuk melindungi warga negera dari eksekusi mati.

Dan itu bisa dimulai dengan menghapus hukuman mati di Indonesia…

.

 Kahar S. Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Hidup Buruh

Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)
Dokumentasi ketika aku memberikan motivasi kepada buruh-buruh di sebuah pabrik di Tangerang, Banten. (Foto: Dokumen Pribadi)

Setiap kali hadir dalam acara diskusi atau konsolidasi yang diselenggarakan teman-teman buruh, kalimat pertama yang aku teriakkan adalah, “Hidup Buruh!”

Lalu, sambil mengangkat tangannya ke atas, dengan gempita mereka akan membalas, “Hidup.”

“Hidup Buruh!”

“Hidup.”

Selalu begitu. Teman-temanku bilang, itu kebiasaan. Tetapi, bagiku, teriakan ‘hidup buruh’ lebih dari dari sekedar kebiasaan. Bukan juga sekedar menjadi pembuka dari sebuah kata sambutan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah deklarasi. Bahwa sejatinya perjuangan kaum buruh adalah perjuangan untuk kehidupan.

Teriakan ‘hidup buruh’ adalah mantra. Semacam penolak bala, agar buruh tetap menjadi manusia. Tidak berubah menjadi robot yang memiliki nyawa.

Dan pada akhirnya, teriakan ‘hidup buruh’ adalah pengingat bagi semua umat. Bahwa buruh adalah penentu peradaban. Nggak percaya? Sebutkan satu saja benda yang melekat di tubuhmu, niscaya tak ada satu pun yang terbebas dari sentuhan tangan seorang buruh. Bahkan celana dalam yang kau pakai, buruh lah yang membuatnya. Sampai pada hal yang sekecil itu. Maka terserah kau saja. Jika masih tidak memiliki empati kepada kaum buruh, apalagi ikut-ikutan memusuhi mereka, tanggalkan semua hasil karya buruh yang kau pakai. Niscaya kau tidak akan memakai apa-apa lagi.

Siapa itu buruh?

Satu ketika Surya Tjandra pernah mengatakan, buruh adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Dia hanya mempunyai tenaga, kemudian hidup dengan menjual tenaganya itu.

Kalau saja dia mempunyai banyak uang, dia tak akan sudi menjadi buruh. Atau meninggalkan Indonesia, negeri yang permai ini, untuk pergi ke negeri orang. Yang dia punya hanyalah tenaga. Itulah yang ia jual kepada majikan untuk mendapatkan uang.

Di negerinya sendiri, tidak semua orang membutuhkan tenaganya. Maka dengan terpaksa ia ‘menjual tenaganya’ ke negara lain. Menjadi buruh migrant.

Coba bayangkan ini. Ketika perusahaan sepatu memproduksi sepatu, yang mereka jual kepada konsumen adalah sepatu. Ketika perusahaan mobil memproduksi mobil, yang mereka jual kepada konsumen adalah mobil. Lantas bagaimana kita menjelaskan pengiriman ribuan orang ke luar negeri melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia? Dalam hal ini, yang mereka jual adalah manusia.

Kalau satu ketika si buruh migrant itu jatuh sakit, terkapar tak berdaya, dengan mudah majikan menendangnya. Menggantikan dengan buruh baru yang lebih kuat tenaganya. Sang majikan, orang yang telah ‘membeli’ si buruh migrant itu, merasa bebas memperlakukan buruhnya dengan sesuka hatinya: upah yang murah, kerja tanpa istirahat, bahkan memperkosa. Sudahlah memeras tenaganya, dia ambil pula tubuhnya.

Dan ketika si buruh migrant itu membela diri, dengan segera ia akan divonis hukuman mati. Ironisnya, pembelaan penguasa negeri ini terhadap warga negara yang akan meregang nyawa di tiang gantungan hanyalah basa-basi.

* * *

Hidup buruh…

Bahwa buruh berjuang untuk  kehidupan. Bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk anak dan anak dari anak-anaknya itu.

Kalau saja disini, di negeri bernama Indonesia ini, tersedia kehidupan yang lebih baik, buruh tak akan mencarinya hingga jauh ke negeri orang. Mereka menjadi seperti itu bukan karena kesalahannya. Bukan pula karena  kebodohannya. Mereka menjadi seperti itu, karena tak banyak pekerjaan tersedia untuknya.

Sebagian dari kita beruntung mendapatkan pekerjaan didalam negeri. Tetapi ada jutaan yang lain tidak memiliki keberuntungan itu. Padahal, mereka bukan orang lain. Mereka saudara kita. Mereka adalah kita: buruh.

Bedanya, mereka bekerja di luar negeri, sedangkan kita bekerja di dalam negeri. Apakah hanya karena dipisahkan oleh batas negara kemudian ada jarak dengan mereka? Tidak! Seperti halnya rasa kemanusiaan yang tak mengenal batas negara, begitulah solidaritas antar buruh. Itulah sebabnya, meskipun saat ini aktif mendampingi buruh-buruh didalam negeri, aku tertarik dan ingin terlibat dalam perjuangan buruh migrant (di luar negeri).

.

Kahar S. Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”