Aksi Lagi

12322462_10204796593508832_1232379574384670632_oSabtu sore, kemarin, di sela-sela rapat konsolidasi, saya berdiskusi dengan beberapa kawan. Kami melakukan sedikit refleksi terhadap dinamika yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Ada evaluasi, kemudian lebih banyak membahas tentang langkah-langkah yang sebaiknya diambil, kedepan.

Konsolidasi seperti ini sering dilakukan. Terbuka. Siapa saja boleh datang. Tak peduli, meskipun kamu adalah anggota. Hampir pasti, setiap yang hadir diberi kesempatan untuk berbicara. Setiap orang akan di dengar pendapatnya.

Setelah tidak ada lagi yang memberikan pandangan, barulah kemudian keputusan ditetapkan. Berdasarkan catatan saya, mereka yang merasa memiliki gagasan hebat justru diam ketika kesempatan untuk itu diberikan. Malah, sebagian besar tidak hadir dalam forum-forum pengambilan keputusan seperti ini.

Berkhotbah tentang kebenaran dan sikap militan sambil ongkang-ongkang kaki sungguh nikmat sekali. Apalagi jika suara-suara itu hanya muncul di ruang sunyi tetapi tak bernyali ketika harus berhadap-hadapan. Sikap seperti ini, menurut seorang kawan dalam diskusi kemarin: “Cermin dari seorang pengecut yang sempurna!”

“Ora urus,” kata seorang teman, menanggapi.

Hal yang menarik, ketika kemudian forum memutuskan aksi ke DPR RI, besok, menggunakan sepeda motor. Bagi yang punya ninja bisa dibawa. Termasuk, yang memiliki mobil pribadi bisa ikut serta. Dampak buruk PP 78 bukan sekedar pengaturan tentang upah. Tetapi juga tentang demokrasi yang dikebiri, hak asasi, dan rezim yang semakin represif. Jika sudah bicara demokrasi dan hak asasi, siapa saja harus marah. Biar kelas menengah atas yang ngehek itu tahu, buruh yang katanya sudah bergaji tinggi masih berani. Lah, mereka punya apa? Melakukan apa?

Ini ide yang menarik. Meski beresiko tinggi. Biasanya, aksi naik bus. Tinggal duduk, tidur, dan sampai.

“Kami sudah nggak punya biaya untuk sewa bus,” keluh beberapa kawan. Apalagi mereka juga harus mempersiapkan anggaran untuk Kongres di Surabaya, yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Dalam hal ini, menggunakan motor untuk datang ke Jakarta menjadi solusi. Sekaligus untuk meningkatkan partisipasi peserta aksi.

Hal lain yang menggembirakan adalah adanya kesepakatan dari seluruh serikat pekerja se-Provinsi Banten untuk melakukan Aksi Bersama ke Kantor Gubernur Banten. Jika pemimpinnya sudah bersatu, atau setidaknya-tidaknya memiliki komitment yang sama terhadap perjuangan ini, rasanya langkah kita menjadi lebih indah.

Aksi bersama pasca mogok nasional ini sekaligus memberikan sinyal kuat, bahwa mogok nasional kemarin bukan klimaks. Ia hanyalah satu rangkaian, dan masih ada rangkaian panjang berikutnya. (*)

 

Besok, Buruh Mogok Nasional

1_1

Teman-teman…

Saya sangat percaya, besok akan tercatat sebagai hari paling bersejarah bagi buruh Indonesia. Saya bahkan tidak lagi peduli, apakah besok itu akan disebut sebagai mogok nasional, unjuk rasa nasional, atau ulangan (eh, maksud saya perlawan) umum sekalipun. Saya tidak peduli. Satu hal yang saya benar-benar peduli, setelah ini, segala warna yang berbeda harus menjelma pelangi.

Bahwa sejarah gerakan selalu diwarnai pasang surut, saya paham. Seringkali perpecahan dan persatuan hanya dibatasi tabir tipis. Apalagi, terlalu banyak pihak yang tidak menghendaki persatuan seperti ini terjadi.

Maka ketika besok kita membuktikan bisa bersama-sama berjuang dalam satu barisan, bagi saya, itu adalah capaian yang penting. Dengan demikian, kita sedang berinvestasi, untuk memastikan usia perlawanan ini akan panjang.

Inilah hari, ketika semua teori diuji. Saat segala persiapan dan konsolidasi yang kita pernah lakukan mendapatkan tempat untuk dipraktekkan.

Dengan persiapan seperti itu, terbayang dalam benak saya, besok, tidak akan sempat bertanya, “Dimana posisi para pemimpin serikat berada?”.

Saya juga tidak akan nyinyir dengan menanyakan, mengapa serikat di PT. A atau B belum juga melakukan pemogokan. Mengapa yang disana hanya mengirimkan perwakilan. Dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak akan sempat. Sungguh!

Besok, semua orang akan memberikan kontribusi semaksimal yang mereka bisa. Dan jika perlu, mengambil tanggungjawab lebih. Mereka lupa bagaimana caranya mencari kelemahan/kekurangan kawan seperjuangan. (*)

Kahar S. Cahyono

 

Menyampaikan Pesan Pemogokan

Suasana Konsolidasi Nasional Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta, 12 Nopember 2015 | Foto: Kascey

Ada banyak serikat buruh yang hadir, ketika Komite Aksi Upah- Gerakan Buruh Indonesia (KAU-GBI) melakukan Konsolidasi Jelang Mogok Nasional di LBH Jakarta. Selama konsolidasi berlangsung,  saya melihat wajah-wajah penuh semangat. Bergairah. Apalagi, pada hari itu, KAU-GBI secara resmi berencana mengumumkan secara terbuka, tanggal mogok nasional.

Konsolidasi ini diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya. Semua peserta berdiri. Sebagian besar mengepalkan tangan kiri. Menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati.

Saya merasa, dengan lagu itu, buruh hendak menegaskan bahwa mereka berkumpul disini bukan untuk kepentingan pribadi. Dan meskipun sebagian besar yang hadir adalah buruh, tetapi perjuangan ini juga bukan untuk didedikasikan terhadap kelompok mereka: buruh.

Ini adalah perjuangan untuk seluruh rakyat! Apapun latar belakangnya.

Lahirnya PP Pengupahan, pada saat bersamaan juga mengebiri demokrasi karena menghilangkan peran serikat buruh dalam perundingan penetapan upah minimum. Dan ketika demokrasi dikebiri, itu artinya, pemerintah menerapkan laku otoriter. Pemerintahan yang seperti ini tidak hanya merugikan buruh. Tetapi semua pilar demokrasi terancam.

Setelah Indonesia Raya, peserta disuguhkan film pendek, saat KNGB melakukan konsolidasi jelang mogok nasional tahun 2013. Ketika itu, acara diselenggarakan di Gedoeng Djoeang.

Saat melihat kembali film ini, ingatan saya tertaut pada beberapa tahun yang lalu.

Apa yang kita sebut mogok nasional bukan hal yang pertamakali kita lakukan. Meski belum sempurna, kita pernah melakukannya. Berhasil. Itulah sebabnya, konsolidasi semacam ini merupakan cara bagi Gerakan Buruh Indonesia untuk memastikan pemogokan berlangsung dengan lebih dahsyat dari yang pernah dilakukan sebelumnya.

Setelah film usai, masing-masing perwakilan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya.

 Budi Wardoyo

12240211_498454443654616_4899224767173031607_oDalam pandangan Budi Wardoyo, pemerintahan Jokowi – JK tidak hanya mengeluarkan paket kebijakan ekonomi. Lebih dari itu, paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah Paket Ekonomi + Paket Represif.

“Salah satu indikatornya, polisi melakukan kekerasan ketika membubarkan aksi buruh tanggal 30 Oktober 2015 di depan Istana Negara,” kata pria berambut panjang ini. Kekerasan terhadap aparat juga kerap dilakukan terhadap petani dan elemen masyarakat yang lain.

Keluarnya PP Pengupahan, mencerminkan bahwa pemerintahan yang sekarang – juga pemerintahan yang sebelumnya — berwatak kapitalis. Pemerintahan yang hanya mengabdi pada kepentingan modal dengan menekan buruh. PP Pengupahan akan semakin memiskinkan kaum buruh secara struktural.

Atas hal itu, pilihan kita sangat sederhana: Terima atau tolak!

“Dan karena kita memiliki akal sehat, maka kita memilih untuk menolak. Ini adalah tentang keadilan sosial. Maka kita tidak akan pernah main-main dengan apa yang kita perjuangkan.”

Ini adalah perjuangan jangka panjang. Kuatkan persatuan. Pastikan perlawanan ini tidak berhenti di tengah jalan.

Yoyok, demikian dia biasa dipanggil, mengaku bangga dengan sikap yang ditunjukkan gerakan buruh Indonesia. Buruh tidak takut dengan kekerasan yang dilakukan aparat. Ini bisa dilihat dari aksi-aksi yang semakin marak di semua daerah.

“Saya banyak bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai daerah. Mereka menyatakan siap tempur,” katanya. Penuh kepercayaan.

Dia juga sadar. Perjuangan ini penuh dengan resiko.

“Tetapi kita akan ambil resiko itu,” tegasnya.

Kemudian ia melanjutkan, “Semakin kita kuat, resiko itu akan semakin kecil. Tetapi apabila kita tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan persiapan, maka resikonya akan besar.”

Untuk itu, Yoyok meminta agar setiap orang yang hadir dalam konsolidasi ini mengambil inisiatif dengan memperluas dan membesarkan gerakan.

“Waktu kita semakin sedikit. Segera lakukan konsolidasi di setiap pabrik dan kawasan. Masuklah dalam komite pemogokan di tiap-tiap daerah. Lakukan konsolidasi dan sebarkan melalui semua media yang kita punya,” tandasnya.

Rezim yang bengis harus kita hadapi dengan persiapan yang baik. Berkaca pada pengalaman mogok nasional tahun 2012 dan 2013, jika ada preman yang menyerang kita, kita harus serang balik mereka. Apa yang kita lakukan adalah untuk melindungi diri sendiri. Kalau kita mundur, justru kita akan semakin hancur.

Herry Hermawan (FSPASI)

905697_10205380666499366_2760804561950566578_o“Pertemuan hari ini untuk merapatkan barisan, menjelang dilakukan mogok nasional,” demikian kata Presiden FSPASI Herry Hermawan, ketika mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan politiknya.

Dan mogok nasional, kata Herry, merupakan salah cara yang akan dilakukan buruh untuk melawan kebijakan yang bersifat eksploitatif terhadap dirinya.

Menurut pria yang mengenakan baju batik ini, investasi tidak bisa menjadi solusi atas permasalahan negeri ini. Apalagi jika untuk meningkatkan investasi, yang dilakukan pemerintah adalah dengan menekan upah.

“Ini tercermin dari adanya paket kebijakan ekonomi, yang seluruhnya dipersembahkan kepada pengusaha dengan menekan buruh.”

Tidak hanya tentang upah. Berbagai kebijakan terus dibuat untuk melemahkan gerakan. Sebagai contoh, Gubernur Ahok sempat membuat Pergub yang melarang demonstrasi selain di 3 tempat yang sudah ditentukan. Bahkan Kapolri ikut-ikutan membuat Surat Edaran untuk menanganihate speech. Baginya, semua ini adalah langkah awal yang dilakukan pemerintah untuk perlahan-lahan menjadi diktator.

Melihat fakta-fakta itu, sikap buruh sudah jelas: “Lawan kebijakan yang tidak berpihak terhadap rakyat!”

Roni (BEM Se-Indonesia)

12240448_10205380661339237_3023776370395609090_oTidak hanya buruh. Konsolidasi jelang Mogok Nasional juga dihadiri oleh Koordinator BEM se-Indonesia Regional Jabodetabek dan Banten, Roni.

“Kami, mahasiswa dan buruh, sama-sama berjuang untuk melawan pemerintahan yang cenderung otoriter,” katanya.

Menurut Roni, kebijakan pemerintah nyaris tidak ada yang pro terhadap rakyat. Bahkan, pihaknya pernah mengadakan survey, yang hasilnya, 60% mahasiswa tidak puas terhadap kinerja Jokowi – JK.

Di bidang hukum, misalnya, pemerintah justru melemahkan institusi KPK. Sumber daya alam Indonesia tidak lagi kita kuasasi, karena pemerintah justru memberikannya kepada asing untuk dikelola. Dan sudah barang tentu, sebagian besar keuntungannya untuk mereka.

“Pemerintah mengatakan, kerja, kerja, dan kerja. Tetapi itu hanya jargon. Tidak ada yang kerja mereka tidak terlihat hasilnya.” Melihat fakta-fakta itu, kata Roni, mahasiswa mendukung mogok nasional yang akan dilakukan kaum buruh.

Ilhamsyah (KP-KPBI)

1_26Menurut Boing, begitu panggilan akrab Ilhamsyah, kita harus terus menerus menggelorakan semangat juang. Terlebih dalam situasi yang sulit seperti saat ini. Perjuangan akan panjang. Karena itu, kita harus melakukan persiapan dengan penuh kesungguhan.

Jokowi – JK, dalam hal kebijakan hanya melanjutkan kebijakan yang lama. Ini adalah kebijakan yang berkelanjutan dan tidak pernah terputus sejak Orde Baru. Pemerintahan yang sekarang hanya bekerja untuk mengeksekusi kebijakan pemerintahan sebelumnya.

“Dia hanya rezim eksekutor untuk memuluskan kaum pemodal masuk kedalam negeri,” katanya.

Keberadaan Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian global yang sedang sulit. Semuanya tersedia di negeri ini. Sumber daya alam dan penduduk yang banyak, sangat potensial menjadi pasar.

Mengutip apa yang pernah dikatakan Revrisond Basir, dalam kegiatan yang diselenggarakan KNGB tahun lalu, juga di tempat ini: “Apabila kita meminta kesejahteraan kepada mereka, sama saja dengan meminta kepada perampok.”

Untuk itu, buruh tidak boleh lagi menitipkan nasib. Saatnya kaum buruh memberikan konsep alternatif sebagai solusi terhadap segenap permasalahan bangsa.

Kita tidak bisa lagi berharap pada mereka. Sebab, setiap kebijakan yang mereka buat hanyalah topeng untuk melanggengkan kekuasaan. Mereka pura-pura berbuat baik untuk rakyat. Tetapi pada saat yang bersamaan, mengambil keuntungan yang lebih besar.

Kerena itu, makna pemogokan yang akan kita lakukan adalah untuk menghentikan eksploitasi manusia atas manusia dan perampokan sumber daya alam yang mereka lakukan. Pemogokan ini akan kita lakukan di seluruh kawasan industri. Kemudian buruh akan bergerak ke pusat-pusat kekuasaan. Bertahan. Sampai menang!

Boing mengingatkan, pelaksana dalam mogok nasional ini adalah buruh. Kita. Maka kita lah yang akan menentukan, kapan mogok nasional akan kita lakukan. Dia menilai, banyak orang yang berusaha menggembosi pemogokan ini. Meskipun demikian, semakin diragukan, persiapan di daerah-daerah justru semakin matang.

“Hari ini kita nyatakan, kita siap melakukan mogok nasional. Bahkan kita telah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun!”

Sulaiman Ibrahim (DPW FSPMI Lampung)

1_27Sulaiman Ibrahim adalah tokoh paling senior yang jauh-jauh dari Lampung, hadir dalam konsolidasi ini.

“Saya sudah berusia 66 tahun. Tetapi ketika hari ini mendengar semangat saudara-saudara dalam perjuangan, saya merasa kembali menjadi muda,” ungkapnya.

Dulu, kenang Sulaiman, apabila kita ngomong keras untuk mengkritik pemerintah, pasti ditangkap. Buruh demo, ditangkap. Tetapi dalam situasi seperti itu, ada orang-orang pemberani yang berjuang untuk melawan tirani. Mereka terus mengkritisi pemerintah. Tetapi menggelar demonstrasi, meskipun resikonya ditangkapi.

Atas perjuangan mereka itulah, hari ini kita bisa berkumpul disini. Kalau saja saat itu tidak ada orang-orang pemberani, Indonesia tidak akan menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Maka, kaum muda, bergeraklah. Sejarah sedang memanggilmu untuk melakukan perubahan.

Thomas (SBSI 92)

SBSI 92 menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam mogok nasional.

Menurut Thomas, buruh harus bersatu. Jika perlu, kelak satu ketika, Indonesia memiliki presiden dari kalangan buruh. Sebab dari zaman ke zaman, buruh selalu ditindas. Maka buruh harus memiliki kekuatan secara politik.

Thomas meminta agar kita semua serius dengan gerakan ini.

“Istana tidak lagi ramah terhadap kita. Setiap kita datang kesana, selalu dijaga dengan tentara dan polisi bersenjata. Untuk itu, kita tidak lagi berharap pada istana. Kita akan menentukan nasib kita sendiri, di jalanan ini!”

IMG_0007

Herman (SP JICT)

Herman, mewakili serikat buruh pelabuhan, menegaskan akan bergabung dalam mogok nasional. Jika itu terjadi, bisa dipastikan, Tanjung Priuk akan lumpuh.

Hal ini terpaksa ia lakukan, karena pemerintah sudah tidak lagi pro terhadap rakyat.

“Dia hanya pro kepada modal asing,” katanya.  Buktinya, SP JICT sudah melakukan aksi selama 3 bulan, tetapi tuntutan mereka diabaikan..

Ocul KP-FMK

“Aku Ocul, dari Komite Persiapan – Federasi Mahasiswa Kerakyatan,” katanya, mengawali pandangan politinya.

Ocul menjelaskan, bahwa mahasiswa sudah melakukan persiapan untuk mendukung mogok nasional. Mahasiswa percaya dengan pemogokan. Saat ini, posko solidaritas mogok nasional didirikan di Palu, Yogjakarta, Samarinda, dan berbagai daerah yang lain.

“Kami akan berusaha menyatukan diri. Membantu untuk meluaskan dukungan agar mogok nasional ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Tanggal 17 November 2015, hari pelajar dan mahasiswa seluruh dunia, KP-FMK juga akan turun ke jalan. Selain memprotes mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, mereka juga menggalang dukungan dari mahasiswa Indonesia terhadap rencana pemogokan nasional buruh Indonesia. Menurutnya, Jokowi – JK telah dengan sengaja memiskinkan rakyat Indonesia dengan mengeluarkan paket ekonomi jilid I-VI.

Dia mengatakan, KP Federasi Mahasiswa Kerakyatan juga memprotes tindakan represif yang dilakukan aparat terhadap gerakan-gerakan rakyat yang berlawan. Misalnya, dalam demonstrasi buruh pada tanggal 30 Oktober 2015 yang menuntut dicabutnya PP No. 78 dibubarkan paksa oleh aparat. Dia juga memberitahu, jika pihaknya sudah membangun posko perlawanan untuk mendukung rencana Mogok Nasional.

1_26

Perwakilan KSPSI AGN

Dalam kesempatan ini, perwakilan dari KSPSI pimpinan Andi Gani, juga menyampaikan pandangannya. Menurutnya, organisasinya secara tegas menolak PP Pengupahan yang menyengsarakan kaum buruh.

“Apabila kita diam, itu artinya kita sedang mendzalimi diri sendiri,” katanya. Oleh karena itu, kalau kita tidak terzalimi, maka pilihannya adalah bersatu. Merapatkan barisan untuk kemudian bersamap-sama melakukan perlawanan.

Dia mengatakan, Jokowi dipilih oleh rakyat. Sudah seharusnya Jokowi mendengarkan aspirasi rakyat. Jika tidak, jangan salahkan jika kemudian rakyat akan menuntut itu.

“KSPSI pernah menjadi sahabat Jokowi,” katanya. Sebagai sahabat, seharusnya Jokowi mendukung kita. Tetapi, kenyataannya, dia justru membuat kita kecewa. (*)

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

 

Jasa Penulisan Buku

Kita tidak akan pernah bisa untuk kembali hidup di masa lalu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan terhadap masa lalu adalah terus merawatnya, sehingga akan menjadi kenangan yang berharga.

Adapun salah satu cara untuk merawat kenangan adalah dengan menuliskannya kedalam sebuah buku. Dalam buku, tidak hanya kenangan yang bisa kita simpan. Disana kita juga bisa menyebarkan semangat, pemikiran, dan gagasan. Dengan demikian, akan semakin banyak orang yang memetik pelajaran dari apa yang pernah kita kerjakan.

Saya, Kahar S. Cahyono, memiliki pengalaman lebih dari 5 (lima) tahun dalam menulis dan menerbitkan buku biografi, memoar dan sejarah organisasi. Oleh karena itu, apabila Anda memiliki keinginan untuk membuat biografi, memoar, atau sejarah berdirinya organisasi/perusahaan, saya akan membantu Anda untuk mewujudkannya.

Bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkanalkan buku Sepultura, Sepuluh Tunturan Rakyat. Ini adalah buku memorial saat serikat buruh mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Kenangan bersama kawan-kawan Jawa Timur, saat saya memperkenalkan buku “Sepultura, Sepuluh Tuntutan Rakyat”. Ini adalah buku memorial, yang menceritakan jejak langkah serikat pekerja ketika mendukung salah satu Capres dalam Pemilu 2014.
Membantu penulisan dan penerbitan buku
Membantu penulisan dan penerbitan buku “Perempuan di Garis Depan”

Saya memiliki ketertarikan yang besar dalam dunia ketenagakerjaan, khususnya mengenai organisasi serikat pekerja. Ini sejalan dengan cita-cita saya untuk membuat dokumentasi tentang gerakan serikat pekerja. Sebuah upaya untuk memperpanjang kenangan, agar dari zaman ke zaman perjuangan serikat pekerja bisa selalu dikenang. Generasi muda, setelah kita, harus tahu apa yang kita kerjakan sekarang.

Maka jangan heran, mayoritas buku yang saya tulis berkaitan dengan sejarah organisasi serikat pekerja. Berikut beberapa jenis buku yang saya tulis:

“Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang”

Ini adalah buku pertama saya mengenai sejarah organisasi serikat pekerja. Saat itu, saya menulis pengalaman aliansi serikat pekerja di Serang, Banten. Buku yang diterbitkan oleh TURC, Tahun 2o10 ini sekaligus menjadi tonggak penting, dalam 5 (lima) tahun karir penulisan saya.

Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis,
Kenangan saat menjadi pembicara dalam launcing buku yang saya tulis, “Buruh Bergerak; Pengalaman Aliansi Serikat Buruh Serang” di Jakarta Conventian Center, tanggal 14 Oktober 2010.

“Memoar Gerakan Buruh Tangerang”

Saya menulis buku Memoar Gerakan Buruh Tangerang sebagai bentuk penghormatan atas apa yang dilakukan Garda Metal dalam memperjuangkan hak dan kepentingan pekerja di Tangerang. Meskipun saya menuliskam ini beberapa tahun yang lalu, namun sekarang kenangan itu masih tetap sama. Beberapa orang yang kisahnya saya tulis bahkan sudah pulang ke kampung halaman. Namun demikian, kisahnya tetap abadi.

Saya membayangkan, kelak sambil mendudukkan cucunya di pangkuan, ia akan membuka kembali buku sembari bercerita. Kakeknya tidak diam ketika melihat ketidakadilan terjadi di depan mata. Dan itu hanya akan terjadi, jika kita menuliskannya…

Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.
Kenangan saat menghadiri sebuah diskusi mengenai penulisan buku, di Tangerang.

“Cerita Dari Bekasi”

Dalam buku ini, saya menuliskan jejak berdarah perjuangan buruh terkait upah. Saat itu sedang terjadi mogok nasional, ketika belasan orang buruh bersimbah darah karena dibacok sekelompok orang.

Beberapa buku yang saya tulis berdasarkan kisah, antara lain Perbudakan Modern di BUMN (Kisah Outsourcing di perusahaan-perusahaan BUMN) dan EE Gak Ada MatinyEE (Kisah Rakernas SPEE FSPMI di Batam – Singapura)

Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.
Dengan menuliskannya kedalam buku, sejatinya kita sedang menolak lupa.

Tak Hilang Ditelan Zaman”

Tidak hanya tema-tema berbasis wilayah (kota), saya juga menulis sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan. Beberapa buku yang saya tulis mengenai tema-tema ini, antara lain Tak Hilang Ditelan Zaman (PT. MTU) dan Diary Anggota FSPMI (PT. SGS).

Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebua perusahaan peleburan baja di Tangerang.
Tak Hilang Ditelan Zaman, merupakan buku sejarah organisasi serikat pekerja di sebuah perusahaan berbasis logam di Tangerang.

.

Hubungi Saya

Tidak hanya menuliskan sejarah organisasi serikat pekerja Anda, saya juga akan membantu dalam proses penerbitan buku tersebut. Membuat cover buku, layout, pengurusan ISBN, hingga percetakan.

Diluar kegiatan menulis, beberapa kali saya juga tampil sebagai pembicara dalam kegiatan pelatihan menulis. Bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, kita tahu itu. Dan sebagai keterampilan, menulis pun bisa dipelajari.

Anda tertarik?

Saya bisa dihubungi melalui beberapa cara berikut ini:

  • Facebook Kahar S. Cahyono
  • HP/WA: 0859 45731398
  • BB: 76BB3169
  • E-mail: kahar.mis@gmail.com

Tengah Malam di Puncak

Kami bersama kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.
Saya dan kawan-kawan Tim Media FSPMI tengah menikmati malam di Puncak, Bogor.

Menjelang tengah malam, kami yang terdiri dari belasan cowok keren digiring kepala suku, Iwan Budi Santoso menuju puncak. Awalnya saya bersemangat. Mengira di malam satu suro ini ia akan memperlihatkan kepada kami cara mencuci keris pusaka miliknya.

Tetapi perkiraan saya keliru. Ia mengatakan, “Ini bagian dari caraka malam.”

Oalah, jauh-jauh dari daerah datang ke Cisarua hanya diminta untuk ikut caraka. Mau gimana lagi, sebagai pengikut kami terpaksa manut. Apalagi Iwan dikelilingi para centeng, Sayed Masykur dan Gue Herveen.

Sementara kami kebanyakan dari kami berasal dari daerah. Ada kawanRumah Rakyat dan Ipang Kusumo Asmoro Diharjo dari Jawa Timur sertaBung Darmo Juwono dari Kepulauan Riau. Lainnya, berasal dari DKI Jakarta (Agung Andrasta Djangkaru), Tangerang ( Kiki Ayah Arief dan Ramadhani F. Chuky). Ikut bersama kami seorang kawan dari Aceh, Depok, dan Bekasi.

Berbincang hingga pagi
Berbincang hingga pagi

Puncak, tengah malam itu dingin. Anak-anak muda duduk bergerombol. Sebagian berdua-duaan. Duduk berdekatan. Jalanan basah. Beberapa saat yang lalu baru saja turun hujan. Setidaknya ada sedikit hiburan, terlebih ketika menyadari dengan berjalan kaki bisa menghangatkan badan. Ditambah dengan hati yang emosi, kami seperti mendapatkan api.

Melihat saya menggigil, Herveen yang membawa selimut tebal dari kamar tempat kami menginap terlihat nyaman. Dengan senyumnya yang manis, ia menawari saya berada dalam satu selimut. Saya mendelik. Emang saya cowok apaan?

Setelah puas berada di puncak, kami kembali ke penginapan. Tiba jelang pukul 3 dini hari dan langsung menuju tempat tidur. Tak biasanya, saya bermimpi. Kali ini tentang rencana pemerintah yang sudah memastikan akan segera mengesahkan RPP terkait upah yang isinya semakin menjauhkan buruh dari cita-cita sejahtera.

Ketika saya terbangun dan mengingkat kembali kejadian semalam, saya masih berharap itu hanya sekedar mimpi….

‪#‎SelamatkanUpahBuruhIndonesia‬
‪#‎TolakUpahMurah‬
‪#‎SUBITUM‬

IMG_9527

Tragedi Gelas Pecah (3)

Ketika saya datang, beberapa orang sedang tiduran di tenda perjuangan. Sebagian yang lain bermain remi. Tetapi tidak sedikit yang sedang ngobrol dengan kawan sendiri. Wajah-wajah lelah terlihat dari raut muka mereka. Saya bisa memahami. Pemogokan yang mereka lakukan sudah memasuki bulan ketiga, tetapi tanda-tanda penyelesaian belum juga terlihat nyata.

Mereka menggelar tikar. Kami duduk melingkar. Setelah itu ngobrol ngalor-ngidul, terutama yang terkait dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

“Sebenarnya tidak ada keinginan dari kami untuk melakuan mogok kerja. Cukup pemogokan yang kami lakukan pada tahun 2012 lalu,” katanya.

Kemudian ia menuturkan, sebelum perundingan pembaharuan PKB sempat menyampaikan. “Kalau saja ada itikad baik dari kedua belah pihak, tidak sampai seminggu perundingan sudah bisa selesai.”

Ketika asyik ngobrol, seseorang menanyakan apakah saya bersedia dibuatkan kopi.

“Kopi hitam ya,” jawab saya.

Tak berapa lama, ia mengantarkan kopi panas dalam segelas plastik.

“Apa sih yang dituntut dalam pemogokan ini,” saya rasa, ini adalah pertanyaan paling penting untuk ditanyakan.

Ada empat tuntutan dalam mogok kerja yang mereka lakukan: Pengusaha wajib menaikkan upah tahun 2015 sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PKB, batalkan PHK dan pekerjakan kembali pekerja bagian Fit Mate serta bayarkan upah mereka, dan hentikan semua perselisihan pembaharuan PKB periode 2015 – 2106. Satu lagi yang menjadi tuntutan kami, hentikan dan cabut kasus pidana terhadap pengurus.

“Apakah kasus pidana yang dimaksud terkait dengan tragedi gelas pecah itu?” Tanya saya.

Dia membenarkan. Detak jantung saya berdetak lebih kencang. Seperti ada sesuatu yang membetot emosi. Kriminalisasi?

“Padahal di hari ketika kejadian tersebut, kedua belah pihak sudah saling memaafkan. Bahkan Ketua Tim Perunding dari pihak pengusaha sudah menyampaikan jika tidak akan ada pelaporan kepada pihak kepolisian,” keluhnya.

Kemudian dia bercerita tentang mogok kerja yang dilakukannya pada tahun 2012. Alasan pemogokannya hampir sama dengan sekarang. Terkait dengan perundingan PKB yang tidak berhasil mencapai kesepakatan. Hanya, memang, di tahun 2012 itu mogok kerja baru berjalan 2 hari, saat kedua belah pihak sudah tercapai titik temu.

“Ada pihak yang menyalahkan mogok kerja yang kami lakukan,” keluhnya. Alasannya macam-macam. Mulai dari PUK arogan, kurang sabar, hingga tidak tahu diri karena kondisi ekonomi sedang terpuruk. Bahkan ada anggota yang membelot. Tidak ikut dalam pemogokan.

Dia membantah semua tuduhan itu.

“Perundingan bipartit mengenai kenaikan upah kami lakukan sebanyak 17 kali. Sejak tanggal 5 Maret 2015 sampai dengan 2 Juli 2015. Selama kurang lebih 4 bulan kami berunding, tetapi tidak berhasil mencapai kesepakatan. Kurang sabar apa kami?”

Berdasarkan ketentuan pasal 3 ayat (3) UU No. 2 Tahun 2004, apabila selama jangka waktu 30 hari telah dilakukan perundingan tetapi tidak tercapai kesepakatan, maka perundingan bipartit dianggap gagal.

“Perundingan yang kami lakukan bukan hanya 30 hari. Tetapi berlangsung lebih dari 120 hari,” tegasnya.

Tidak hanya tentang upah. Perundingan PKB bahkan sudah dilakukan sebanyak 41 kali. Terhitung sejak pembahasan tata tertib, tanggal 27 Oktober 2014.

“Tuntutan kami tidak berlebihan. Kami hanya menghendaki kenaikan upah sesuai dengan isi PKB,” tuturnya. Mediator Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor bahkan sudah memerikan anjuran agar pengusaha melaksanakan/mentaati isi PKB. Tetapi anjuran itu tak diindahkan. (*)

Tragedi Gelas Pecah (2)

“Insya Allah siap jemput di Rambutan,” begitu pesan pendek yang saya terima, ketika dia mengetahui rencana perjalanan saya ke Bogor.

“Merepotkan tidak, Bung?”

“Aman. Tidak merepotkan,” jawabnya.

Begitulah, banyak sekali kemudahan yang saya dapatkan. Ketika saya membutuhkan data-data awal, dengan segera saya dikabari jika data tersebut sudah dikirim. Lalu tanpa diduga sebelumnya, seseorang menawarkan diri untuk menjemput saya.

Mendatangi sebuah destinasi yang sama sekali belum pernah dikunjungi sebelumnya, bagi saya sudah biasa. Dalam hal ini, saya tidak merasa canggung ketika harus melakukannya sendirian. Justru dengan begitu, saya bisa lebih mendalami apa yang sesungguhnya terjadi. Semacam melakukan espedisi, perjalanan ilmiah ke sebuah daerah untuk menangkap sebuah kisah.

“Kami mulai melakukan mogok kerja sejak tanggal 4 Agustus 2015,” katanya. Setelah beberapa saat terdiam, dia melanjutkan kata-katanya, “Dan recananya baru akan kami akhiri pada tanggal 4 Agustus 2016. Atau lebih cepat dari itu jika Pengusaha memenuhi tuntutan kami.”

Bersama kawan-kawannya, dia berada di tenda perjuangan yang didirikan di depan perusahaan. Disana, mereka berjaga 24 jam. Terbagi dalam 3 sift.

“Sudah lama ya,” kata saya. Tak jelas, apakah ini pernyataan atau sebuah bertanyaan.

“Tepatnya baru 69 hari,” dia meluruskan.

69, sesuatu terlintas dalam pikiran. Dan dalam waktu itu, baginya masih baru.

“Mengapa harus mogok?” Saya langsung menuju inti persoalan.

Dia tidak segera menjawab. Matanya menerawang jauh kedepan. Seperti sedang mengumpulkan segala ingatan yang ia punya untuk merangkai cerita. Saya diam. Sabar menunggu apa yang hendak ia katakan.

Dalam hening itu, lagi-lagi seperti ada yang sedang memanggil-manggil dengan suara yang ganjil: Upah – PKB – Gelas – Pecah – Polisi – Tersangka – Mogok – PHK – Cilengsi – Bogor.

Saya memejamkan mata dan menutup telinga. Apa yang salah dari sebuah perundingan tentang upah? Adakah yang susah dari usaha untuk melakukan pembaharuan PKB, toh perundingan seperti ini bukan terjadi untuk pertamakali. Berapa rupiah harga gelas yang pecah itu, sehingga menutupi hati untuk mencari menang-kalah?

Ketika suara-suara itu semakin kecang, tiba-tiba saya terhuyung. Seperti ada yang menendang dari belakang. Terhuyung dan jatuh.

Saya bangun dan melihat sekeliling. Istri saya sedang tidur pulas, tepat di samping saya. Rupanya, tadi, tanpa sengaja gerakan kakinya menimpa badan saya. Tak berlama lama kemudian terdengar adzan Shubuh berkumandang…. (*)

Tragedi Gelas Pecah (1)

Berawal dari cerita seorang teman di Tangerang yang akan dilaporkan ke Polisi, karena ada hasil produksi yang rusak. Apa yang disebut beberapa kawan sebagai bentuk kriminalisasi itu bukan yang pertamakali terjadi. Saya mencoba mengingat-ingat, tetapi benar-benar lupa. Kapan dan dimana peristiwa yang persis sama pernah ada.

Lelah mengingat sesuatu yang sudah terhapus dalam memori, tiba-tiba saya seperti mendapat bisikan gaib: ‘tragedi gelas pecah’.

Pasca mendengar bisikan itu, saya gemetar. Kata-kata itu terus berkelebat dalam benak saya. Seperti sedang memanggil-manggil dengan suara yang ganjil.

Gelas – Pecah – Polisi – Tersangka – Lintec – Cilengsi – Bogor.

Saya membulatkan tekad untuk kesana. Masalahnya adalah, Cilengsi – Bogor adalah daerah yang asing bagi saya. Maka saya kontak Iwan, Ketua Tim Media FSPMI untuk menanyakan apakah di Bogor ada tim yang bisa dihubungi. Bagaimanapun, saya membutuhkan seseorang yang bisa menjadi penunjuk jalan.

Iwan merekomendasikan Selamet. Tetapi setelah coba saya hubungi beberapa kali, saya tidak berhasil tersambung dengannya.

Lalu saya ingat Willa. Seorang tokoh, yang untuk sementara ini bolehlah disebut sebagai penguasa Bogor. Kepadanya saya minta nomor kontak orang lapangan yang bisa dihubungi.

Dari Willa, saya mendapatkan nomor Supri. Setelah saya simpan, dari foto profil di WA, saya tahu beberapa kali pernah bertemu dengan Supri. Hanya, memang, tidak pernah berbincang mesra dengannya.

Dari sini komunikasi antara kami terjalin.

Melalui surat elektronik, Supri memberikan data yang cukup banyak kepada saya. Lebih dari cukup untuk bisa memahami bagaimana tragedi itu bisa terjadi. Bagi sebagian orang, bisa jadi data-data itu hanya berupa lembaran kertas. Tetapi bagi saya, tidak. Disana tersimpan kisah yang luar biasa indah. Tentang keberanian, keteguhan, dan sikap pantang menyerah.

Baru kemarin, saya terhubung dengan Saipul Anwar. Saipul inilah, bersama rekannya, Prasetya Sulaiman Ali dituduh melakukan pengrusakan. Kini ia menjadi tersangka. Sejak 30 Juli 2015, keduanya dikenakan tahanan kota.

Dari ujung telpon, Saipul Anwar terdengar bersahaja. Ach, saya selalu berasa bahagia mengetahui seorang kawan di seberang sana sedang baik-baik saja. Padahal, disini saya sedang mengkhawatirkannya. Nampaknya ia sudah tahu jika saya akan menghubungi dirinya.

“Bung Supri yang memberitahu,” katanya.

Dan saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk melakuan perjalanan ke Bogor. Mungkin tidak hari ini, tetapi dalam waktu yang tidak lama lagi. (*)

GEBER BUMN Membukukan Kisahnya

3 Jurus jitu

Jika permasalahan outsourcing sampai membuat Komisi IX DPR RI membentuk Panitia Kerja, itu terjadi karena desakan GEBER BUMN.

Jika ada Presiden nyaris diinterpelasi gara-gara permasalahan outsourcing, itu terjadi atas desakan GEBER BUMN.

Jika Pemerintah pernah membentuk “Satuan Tugas Monitoring Pelaksanaan Kebijakan Outsourcing di BUMN”, itu terjadi atas desakan GEBER BUMN.

Karena permasalahan outsourcing di perusahaan-perusahaan BUMN, Menteri BUMN serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era SBY pernah berjanji untuk menjalankan rekomendasi Panja OS BUMN. Meskipun pada akhirnya janji tinggal janji.

Tak terkecuali Jokowi. Ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan gagah memberikan rekomendasi agar permasalahan outsourcing di BUMN segera diselesaikan. Tetapi ketika menjadi presiden, seperti tak punya nyali.

Hingga hari ini, nasib ribuan pekerja/buruh di BUMN yang di PHK belum ada kepastian, bahkan ketika rezim sudah berganti.

Buku berjudul “Perbudakan Modern di Badan Usaha Milik Negara” ini mengajak kita untuk melihat kasus-kasus perburuhan di perusahaan BUMN yang belum tuntas terselesaikan. Ditulis sendiri oleh TIM GEBER BUMN, buku ini menjadi terasa dekat. Seolah nyata di depan mata.

Maka ketika kisah itu dibukukan, Anda perlu mempertimbangkan untuk memiliki buku ini. Tentu, jika punya uang.

Bagi sebagian orang, menyimpan kenangan merupakan sebuah kebanggaan. Apalagi jika kenangan itu berkaitan dengan perjuangan untuk menghapus apa yang disebut sebagai “perbudakan di dunia modern”. Cerita semacam ini sangat seksi jika diceritakan kepada anak cucu kita, nanti.

Maka saya bisa memahami, jika kemudian ada seorang penulis biografi terkenal mengatakan, “Sejarah perjuangan bukan sekadar kisah. Ia adalah energi abadi dan penjaga semangat. Jika tak ada rangkaian ketabahan dan kegigihan di masa sulit itu, belum tentu kita masih berdiri tegak pada hari ini….”

Adalah GEBER BUMN, nama aliansi yang kisahnya diceritakan dalam buku setebal hampir 300 halaman ini. Seperti namanya, Gerakan Bersama Pekerja/Buruh di BUMN, mereka bekerja di perusahaa BUMN. Perusahaan plat merah, yang semestinya memberi contoh dalam hal ketaatan terhadap hukum, termasuk hukum perburuhan.

Hingga hari ini, ribuan orang pekerja yang menjadi korban PHK tidak memiliki kejelasan atas nasibnya. Padahal peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu. Janji untuk mempekerjakan kembali, mengangkat sebagai karyawan tetap, dan membayar upahnya selama proses perselisihan, hanyalah angin surga. Dusta.

Dan untuk itulah, buku yang ditulis Tim GEBER BUMN ini tidak saja menarik untuk disimpan sebagai kenangan. Lebih dari itu, ia sebagai alat untuk menyuarakan kepada dunia: KATA ADALAH SENJATA!

——————————————

Catatan: Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang cara mendapatkan buku ini, hubungi e-mail: kahar.mis@gmail.com atau HP/WA: 0856 9154 9368

Mendukung Calon Independent

1

Dalam satu kesempatan, saya pernah mengikuti “Workshop Hasil Riset Menemukan Ruang Baru Bagi Demokrasi Partisipatif”. Ada banyak hal yang kami diskusikan. Salah satunya tentang bagaimana membuka ruang, agar masyarakat bisa terlibat dalam suatu kegiatan politik. Sesuatu yang kemudian membuat saya tertarik untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik.

Maka ketika mengetahui Obon Tabroni berencana maju sebagai Bupati Bekasi melalui jalur independent, saya menaruh harapan besar kepadanya. Kata “independent” membuat saya jatuh cinta, dan kemudian tertarik untuk mendukungnya. Sungguh….

Ketika rakyat belum memiliki alat politiknya sendiri, memberikan dukungan kepada calon independent adalah pilihan yang tepat. Mengapa? Jawaban saya, sama persis dengan temuan penelitian mengenai Strategi Kandidat Pro-Demokrasi Dalam Pilkada yang dilakukan beberapa tahun lalu:

1) Secara ideal, fungsi partai politik dalam pilkada adalah mengusung kader partai sebagai kandidat kepala daerah. Tetapi yang terjadi, partai politik justru memberikan prioritas kepada kandidat dari luar partai, yang biasanya atas dasar adanya “deal-deal tertentu”.

2) Partai memanfaat institusi partai lebih sebagai “kendaraan politik”, “perahu politik”, bahkan “ajang transaksi” untuk memasukkan nominal finansial yang diklaim sebagai ongkos konsolidasi partai.

3) Partai tidak transparan dalam melakukan penjaringan atau seleksi terhadap kandidat. Hal ini ditopang dengan dominasi hierarki kepengurusan partai di tingkat pusat.

4) Dinamika kehidupan partai hanya signifikan terlihat ketika hajatan formal-prosedural akan dimulai. Sulit membayangkan entitas partai yang seharusnya hidup dari waktu ke waktu, tetapi seperti terlihat ada ketika menjelang pemilu.

5) Kandidat yang diusung partai kebanyakan dengan jelas memilih strategi menabur uang. (*)