Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

Entahlah, apa yang membuatku selalu gelisah setiap kali melihatmu tidak masuk sekolah. Saat-saat seperti ini, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Dan celakanya, aku tak pernah tahu apa gerangan yang telah hilang itu.

Kamu?

Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Tetapi bagaimana mungkin? Sedangkan aku tak pernah memilikimu. Jadi untuk apa harus merasa kehilangan? Untuk apa harus ada gelisah ketika kau tak datang ke sekolah? Sekali lagi, aku tak tahu. Saat ini pun, setelah hampir dua puluh tahun peristiwa itu berlalu, aku tak pernah berhasil menemukan jawabannya.

Sejak hari pertama kau tidak datang ke sekolah, semua menjadi tidak lagi sama. Dalam kelas terasa sangat membosankan. Papan tulis terlihat muram. Aku bahkan kehilangan semangat untuk mengikuti pelajaran. Padahal, biasanya, aku dan kamu akan saling berlomba menjawab setiap pertanyaan guru. Seperti kehilangan pesaing, aku justru menjadi lesu.

Sepintas, kita seperti saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Kau selalu menempati ranking satu, sedangkan aku cukup puas mengekor di belakangmu. Tetapi diluar itu, kita adalah dua sahabat yang sangat dekat.  Saling melengkapi. Aku akan menanyakan tetang rumus matematika dan fisika kepadamu. Sesekali aku meminjam buku catatanmu untuk aku bawa pulang ke rumah, sekedar untuk mengagumi tulisan tangamu yang mungil dan rapi. Dan kau akan bertanya kepadaku tentang pelajaran bahasa Indonesia. Terutama ketika Bu Ratna, guru bahasa Indonesia yang sekaligus menjadi wali kelas kita, memberikan pekerjaan rumah untuk menulis cerpen dan puisi.

Teman-teman mengira kita pacaran. Aku hampir saja membenarkan, jika saja kamu tidak mengatakan, “Halah…, kita kan masih kecil. Konsentrasi belajar dulu.”

Ketika itu kita duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Beberapa bulan menjelang Ebtanas, yang sekarang diubah menjadi UAS.

* * *

Ini hari ketiga, kamu tidak juga datang ke sekolah. Bu Ratna meminta salah satu siswa datang ke rumahmu untuk mencari kabar tentang dirimu. Lazimnya anak sekolah jika tidak masuk menyampaikan pemberitahuan. Tetapi kamu sama sekali tidak memberikan kabar kepada pihak sekolah. Wajar jika kami mengkhawatirkanmu.

Aku mengacungkan tangan. Siap menjadi relawan.

“Cie…, cie…. Modus,” kelas menjadi gaduh. Kawan-kawan masih saja menyangka kita  memiliki hubungan spesial.

“Mau nyari tahu keberadaan Desi atau melepas rindu,” yang lain menimpali.

Di bully teman-teman, aku memasang muka tak suka. Padahal dalam hati berbunga-bunga. Begitulah ceritanya. Akhirnya siang itu aku dan Yuda, ketua kelas kita, pergi ke rumahmu.

Dan ini awalnya. Sejak saat itu, akhirnya aku mengetahui kehidupan keluargamu. Kau tidak masuk sekolah karena harus merawat bapak yang sedang sakit. Kau dua bersaudara. Adikmu masih kecil, lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Sedangkan emak, begitu kau biasa memanggil ibumu, menjadi buruh migrant di Arab Saudi. Bapak hanyalah buruh tani yang menjual tenaganya untuk “menggarap” sawah orang. Tidak setiap hari ada orang yang menggunakan jasanya.

Di Blitar, tempat aku besar, sebagian mata pencaharian penduduknya memang petani. Tetapi sesungguhnya banyak yang dinamakan petani itu tidak memiliki sawah. Tidak berlebihan jika kemudian menjadi buruh migrant ke luar negeri menjadi pilihan. Hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi orang miskin.

Seperti kali ini, ketika bapak sakit, kau yang mengalah tidak pergi ke sekolah agar bisa merawat bapak di rumah. Sejak emak berangkat ke Arab, mencuci, memasak, hingga membersihkan rumah, kau semua yang mengerjakan. Dengan pekerjaan yang banyak itu, aku tak tahu bagaimana kamu meluangkan waktu untuk belajar agar menjadi bintang kelas. Aku saja, yang semua kebutuhan disetiapkan orang tua, harus jungkir balik sekedar untuk menempati posisi nomor dua.

“Har, aku anak paling besar. Pilihanku hanya satu, rajin belajar agar bisa mengakhiri kemiskinan yang dialami keluargaku,” katamu, saat kita ngobrol di ruang tamu.

“Kamu hebat, Des.” Hanya itu yang terucap dari bibirku. Di mataku, kau menjelma sebagai sosok yang jauh lebih dewasa. Padahal, usiaku lebih tua beberapa minggu dari usiamu.

“Setelah ini aku akan melanjutkan ke SMA I, dan setelah lulus nanti aku akan mencari beasiswa untuk masuk perguruan tinggi,” katamu. Setelah beberapa saat terdiam, engkau  melanjutkan, “Aku mau jadi Arsitek. Membangun gedung-gedung tinggi seperti yang ada di luar negeri.”

Aku tahu, itu adalah SMA favorit. Hanya mereka yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata yang bisa diterima menjadi siswa disana. Dengan prestasimu selama ini, aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi itu.

Desi, mungkin saja kau telah lupa dengan percakapan ini. Tetapi aku masih mengingatnya dengan sempurna, hingga kini. Entah ini tanda-tanda apa. Satu hal yang pasti, semua hal tentangmu, aku cepat sekali mengingatnya.

* * *

Hingga akhirnya, kita dinyatakan lulus sekolah menengah pertama. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, kau berhasil masuk ke SMA I. Aku ikut gembira.

Tetapi menjelang kenaikan kelas tiga, di SMA itu, aku mendengar kabar kau telah berhenti sekolah. Emak tak lagi mengirim uang dari Arab Saudi. Sementara biaya pendidikan di sekolah ini tergolong tinggi.

Ach, begitu cepatnya hidup ini berubah. Aku merasa marah. Tapi tak tahu kepada siapa — untuk apa.

Aku tahu, ini adalah saat tersulit dalam hidupmu. Seketika itu bangunan cita-citamu runtuh. Kau bisa saja menyelesaikan rumus-rumus sulit dalam matematika dan fisika. Tetapi begitu menyangkut tentang ekonomi, ketiadaan biaya sekedar untuk ongkos pergi ke sekolah, akhirnya kau menyerah.

Aku masih percaya, jika saja kau menghadapi seorang diri, kau pasti akan mampu. Tetapi masalahnya, dibelakangmu ada bapak yang mulai sakit-sakitan, juga adikmu yang mulai beranjak besar.

“Aku akan ngumpulin uang dulu untuk jadi Arsitek, Har…” itu kalimat terakhir yang aku dengar, sebelum kamu memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai TKW. Mengikuti jejak ibumu sebagai buruh migrant.

“Kenapa nggak cari kerja disini aja sih,” kataku. Sewot.

“Kamu pikir gampang apa nyari kerja untuk orang yang nggak lulus SMA? Nggak jual diri juga udah untung,” katamu. Judes sekali. Mungkin karena menjadi buruh migrant pun bukan pilihan yang kau kehendaki. (*)

.

Kahar S Cahyono

“Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono”

Tergoda

“Setan mana yang menggoda hatimu, tega-teganya kau berbuat begitu…,” begitu bunyi lirik lagu berjudul Terlalu, yang dipopulerkan Majoret Band. Saya mendengarkannya secara tak sengaja dari penjual kaset di pinggir jalan, dekat Pasar Cikupa, semalam.

Entah mengapa, hingga pagi ini lirik itu masih saja terngiang-ngiang di telinga saya. Sesuatu yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah dari masa lalu. Eits, jangan salah paham. Ini bukan tentang asmara.

Ceritanya, saat masih SMK, saya pernah mendapatkan nilai 4 dalam raport. Itu mata pelajaran Matematika. Sesuatu yang kemudian tertulis abadi dalam transkrip nilai saya. Pasalnya, saya nyaris tidak pernah masuk ketika mata pelajaran paling sulit sedunia itu berlangsung. Hati saya selalu tergoda untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ketimbang duduk manis di dalam kelas.

Mengetahui nilai yang jeblok itu, saya tetap merasa baik-baik saja. Yang saya lakukan justru menulis artikel yang kemudian dimuat di majalah sekolah. Dalam tulisan itu saya menyampaikan kritik terhadap guru yang “kurang bersahabat” dengan siswa yang lebih memilih aktif di luar. Seharusnya siswa bisa merayakan kebebasan untuk fokus pada bidang yang paling ia minati. Kebetulan, saat itu saya dipercaya sebagai pemimpin redaksi majalah sekolah, jadi tidak terlalu sulit untuk meloloskan tulisan yang semacam itu.

Diluar itu, nilai akademis saya tidaklah begitu mengesankan.

Tetapi, tentu saja, saya tidak membenci guru. Buktinya ketika kuliah saya masuk ke Fakultas Tarbiyah pada sebuah institusi perguruan tingggi di Serang, hingga wisuda. Hanya, memang, saya tidak pernah benar-benar menjadi guru. (Generasi macam apa yang akan dihasilkan kalau guru-nya macam saya, he he…)

“Setan mana yang menggoda hatimu….”

Godaan itu terus berlanjut. Setelah bekerja, bukannya karir di perusahaan yang saya kejar. Saya justru bergabung dengan orang-orang yang dianggap ‘pemberontak’ dengan mendirikan serikat pekerja. Unjuk rasa, terlibat dalam pemogokan, membuat propaganda, advokasi kasus, adalah keseharian saya selanjutnya.

Satu ketika, Direktur Utama tempat saya bekerja pernah memergoki saya sedang bermain facebook saat jam kerja. Tentu saja, apa yang saya lakukan ini tidak baik untuk ditiru. Saya lebih banyak menggunakan komputer kantor untuk berselancar di dunia maya. Menulis artikel dan lain sebagainya. Tulisan saya yang mendapatkan penghargaan dari Walikota Bekasi dan hadiah sebesar 10 juta saya tulis saat jam kerja.

Konon, sang Direktur menyampaikan tindakan tidak terpuji saya itu kedalam rapat pimpinan perusahaan. Bak artis terkenal, semua orang membicarakan saya. Secara gitu lo, Direktur Utama yang membahasnya dalam sebuah rapat resmi perusahaan. Sejak saat itu internet ke komputer saya di putus. Sesuatu yang kemudian memotivasi saya untuk memiliki komputer dengan jaringan internet sendiri.

Kata Rene Suhadono, “Your job is not your carrer.”

Fokuslah pada apa yang menjadi passion-mu. Pada cita-cita dan keinginanmu. Pada semua apa yang selalu menggoda hatimu, yang membuatmu bersemangat bangun lebih pagi untuk memulai hari-harimu.

Dan percayalah, semuanya akan baik-baik saja…

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Luka Buruh Purwakarta

Oleh: Kahar S. Cahyono

Siang itu, didampingi beberapa pengurus FSPMI dan KSPI, ia mendatangi Komnas HAM. Wajahnya layu. Ia terlihat sangat lelah. Bukan saja kurang tidur. Tetapi juga tidak bisa memahami, mengapa aparat kepolisian itu tega melakukan kekerasan terhadap orang kecil seperti dirinya. Buruh pabrik yang sudah empat bulan tidak mendapatkan gaji, hanya karena meminta agar Pengusaha ditempatnya bekerja bersedia merundingkan upah dengan serikat pekerja.

Hari itu, 2 Juli 2014, tidak akan pernah akan ia lupakan. Satu hari yang akan ia kenang sepanjang hayat. Barangkali sampai nanti, ketika ia mati.

Hari itu, ia dan sejumlah temannya berniat untuk masuk kerja seperti biasa. Berangkat pagi. Lengkap dengan seragam kerja yang sudah belasan tahun ia pakai. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu pintu gerbang perusahaan terbuka. Pintu gerbang memang sulit untuk tertutup setelah roda pintu keluar dari relnya.

Diminta meninggalkan Musholla perusahaan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Diminta meninggalkan Musholla perusahaan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Karena diminta meninggalkan Musholla, ia dan kawan-kawannya ke tenda perjuangan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Karena diminta meninggalkan Musholla, ia dan kawan-kawannya ke tenda perjuangan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Meski bisa masuk ke lingkungan perusahaan, tetapi mereka tidak bisa masuk kedalam lingkungan produksi. Tidak ingin memaksakan kehendak, ia dan teman-temannya memilih ke musholla perusahaan. Disana ia shalat Dhuha. Sebagian yang lain duduk dan tidur-tiduran. Mereka sedang menjalankan ibadah puasa.

Tak lama kemudian, security meminta agar mereka meninggalkan Musholla. Tetapi permintaan ini ditolak.

Ambang batas kesabarannya sudah terkikis habis. Sejak melakukan mogok kerja pada bulan Maret 2014 yang lalu, perusahaan menganggap mereka sudah mengundurkan diri. Empat bulan tidak mendapatkan gaji, jaminan kesehatan diputus, ditambah lebaran yang akan datang sebentar lagi, kesabarannya mulai goyah. Belum lagi ini musim kenaikan kelas. Banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhkan.

Tuntutan mereka sangat sederhana. Meminta agar pihak pengusaha bersedia merundingkan kenaikan upah dengan serikat pekerja. Dan lagi pula, perundingan upah itu sesuai dengan amanat Pasal 19 Permenakertrans nomor 7 tahun 2013 yang menyatakan, “Besaran kenaikan upah di perusahaan yang upah minimumnya telah mencapai KHL atau lebih, ditetapkan secara bipartit di perusahaan masing-masing.” Mereka hanya meminta agar aturan dijalankan.

Meskipun menolak pindah dari Musholla, namun ia tidak lantas berbuat anarkis. Ia tahu, perbuatan anarkis hanya akan merugikan dirinya sendiri. Bahkan bisa jadi akan menggagalkan cita-cita perjuangan yang selama ini mereka impikan.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, pagi itu banyak sekali anggota Kepolisian yang datang ke perusahaan. Ia menghitung, jumlahnya mencapai tiga truck. Mungkin lebih. Kedatangan aparat kepolisian itu lengkap dengan helm, tameng dan tongkat. Tak ketinggalan, water canon juga dihadirkan.

Mengetahui gelagat kurang baik, akhirnya ia dan teman-temannya bersedia meninggalkan Musholla dan pindah ke tenda perjuangan yang terletak di dekat pos satpam. Tidak jauh dari pintu gerbang.

Aparat mengangkat paksa buruh untuk keluar dari pintu gerbang | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Aparat mengangkat paksa buruh untuk keluar dari pintu gerbang | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Dikeluarkan paksa. Buruh tidak melawan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Dikeluarkan paksa. Buruh tidak melawan | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Tidak cukup hanya meninggalkan Musholla, aparat meminta mereka untuk keluar dari pintu gerbang. Bahkan meminta agar tenda perjuangan yang sudah beberapa hari didirikan itu dibongkar.

Tentu saja, ia menolak permintaan itu. Ini adalah mogok kerja, pikirnya. Dan mogok kerja adalah hak buruh yang dijamin oleh Undang-undang Ketenagakerjaan. Pihak Kepolisian tidak boleh mencampuri urusan hubugan industrial. Apalagi melakukan pengusiran terhadap buruh yang sedang melakukan mogok kerja.

“Tapi polisi tetap memaksa kita keluar,” katanya.

Ia menatap kedepan. Peristiwa kelam di Rabu kelabu itu kembali terbayang.

Tak menyerah, ia dan teman-temannya yang berjumlah kurang lebih 50 Orang tetap duduk sambil bergandengan tangan satu sama lain. Akan tetapi pihak Kepolisian yang jumlahnya jauh lebih banyak itu mengangkat mereka satu persatu. Menyeret keluar dari pintu gerbang.

“Kami diangkat kayak anjing,” katanya. Pelan.

Ia melihat teman-temannya diseret dan diijak-injak. Mereka tidak melawan. Hanya bisa meneriakkan nama Tuhan. Mengucapkan takbir ketika melihat temannya diangkat paksa dari tempat duduknya.

Saat peristiwa itu terjadi, massa solidaritas dari perusahaan-perusahaan lain yang menjadi anggota FSPMI berdatangan. Dari mobil komando, orator menyampaikan agar polisi tidak bertindak anarkis. Apalagi ini adalah aksi damai. Bulan Ramadhan. Yang seharusnya sama-sama dihormati agar bentrokan bisa dihindari.

“Sebenarnya tugas petugas adalah untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Tetapi yang terjadi disini sangat miris. Inilah Indonesia, kawan. Sedih sekali negara ini mempunyai aparat yang seperti itu. Sebenarnya mereka tahu tugas mereka. Apakah buruh bukan masyarakat? Apakah hanya pengusaha yang memiliki banyak uang itu yang dianggap masyarakat, sedangkan kami tidak,” suara dari atas mobil komando terdengar berkali-kali.

Setelah diangkat paksa satu persatu, di dalam gerbang tersisa kurang lebih 20 orang. Tiba-tiba pihak Kepolisian bermaksud menutup pintu gerbang. Melihat itu, spontan massa solidaritas yang berada diluar gerbang menghalang-halangi. Hal ini mereka lakukan karena jika pintu gerbang itu ditutup, khawatir terjadi apa-apa terhadap kawan-kawannya yang masih berada didalam.

Buruh yang masih bertahan dipukuli | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Buruh yang masih bertahan dipukuli | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Ia bahkan tak tahu apa salahnya | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Ia bahkan tak tahu apa salahnya | Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Disitulah terjadi tarik-menarik. Entah darimana awalnya, tiba-tiba terjadi perang batu antara aparat dan buruh. Dua kubu saling melempar. Naas bagi 20-an orang yang berada didalam. Mereka dijadikan bulan-bulanan aparat Kepolisian. Ia menjadi salah satu buruh yang masih tertahan didalam gerbang

“Kami digebukin,” katanya. Posisi yang sangat sulit, karena terjebak antara kerumunan aparat dan pintu gerbang.

“Itu kawan saya kepalanya bocor akibat dipukul dengan tameng,” ujarnya sambil menunjukkan seorang kawan yang kepala bagian belakang (dekat telinga) diperban. “Dan itu, teman yang satunya mencoba nyelamatin dia. Malah ikut digebukin,” ia melanjutkan.

Dibawah hujan batu dan “hajaran” aparat, mereka kocar-kacir. Tak banyak pilihan, ia mengambil bambu bekas yang digunakan untuk mendirikan tenda. Sambil memegang bambu itu, ia berdiri dengan gagah berani. Berhadap-hadapan dengan aparat.

“Seharusnya kamu melindungi saya,” katanya kepada aparat itu.

Aparat itu memintanya keluar gerbang. Tak pikir panjang, ia segera keluar. Baru saja melangkah keluar pintu gerbang, ia ditempak dengan gas air mata. Selongsongnya tepat mengenai pinggul yang menyebabkan luka memar. Akibat tembakan itu, pinggulnya bengkak dan luka memar.

“Kemarin nggak bisa jalan.” Ia tertawa getir.

Tidak hanya dirinya yang mengalami hal itu. Beberapa orang yang lain juga mengalami. Nampaknya aparat sengaja membidikkan tembakan gas air mata itu ke bagian tubuh. Ada yang terkena tangan, dada, bahkan salah satu temannya terkena gas air mata di bagian mata. Temannya itu harus dirawat rumah sakit. Kata dokter, ada kemungkinan ia mengalami kebutaan.

Dibawah hujan gas air mata | Foto: Tim Media FSPMI Bekasi
Dibawah hujan gas air mata | Foto: Tim Media FSPMI Bekasi
Puluhan motor dirusak : Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta
Puluhan motor dirusak : Foto: Tim Media FSPMI Purwakarta

Sebenarnya kericuhan itu sempat terhenti, ketika Bupati Purwarta datang ke perusahaan. Seperti janjinya, ia bermaksud menengahi agar permasalahan ini bisa cepat diselesaikan. Ia dan teman-temannya menahan diri. Memberikan kesempatan kepada orang nomor satu di Purwakarta itu menjalankan misinya.

Tetapi upaya sang Bupati sia-sia. Menurut Bupati, pihak Pengusaha tetap bersikukuh dengan sikapnya. Bupati sudah mengupayakan agar terjadi dialog diantara kedua belah pihak. Namun Bisa duduk bersama sehingga permasalahan ini saya kasih tahu, mereka tidak mau.

“Saya harap kalian bisa menahan diri. Jangan terpancing. Sebab kalau terpancing nanti ada alasan bagi mereka untuk mengusir kita dari sini,” ujar Bupati.

Ia dan kawan-kawannya mendesak Bupati agar bersikap tegas.

“Ini kan awalnya berasal dari SK  Bupati yang meminta agar upah dirundingkan secara bipartit. Tolong kasus ini ditelusuri dari awal,” ia bersikeras.

“Bapak harus berpihak kepada rakyat. Masak kami diperlakukan seperti anjing. Diangkat. Diseret satu-satu. Bapak memiliki kewenangan. Kami sudah 4 bulan tidak dibayar. Masa Bupati tidak bisa bersikap tegas,” sambung yang lain.

Tetapi jawaban sang Bupati normatif. Bahwa ia tidak bisa mengambil tindakan ke perusahaan tanpa melalui prosedur.

“Kalau Perusahaan ditutup yang rugi karyawan.”

Pernyataan itu membuat ia dan kawan-kawannya bereaksi keras. Seolah-olah jika pelanggaran itu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki uang, maka hal itu bisa dibenarkan. Tetapi ketika pelanggaran dilakukan orang kecil, bisa dilakukan layaknya binatang.

Ia kecewa. Bahkan tidak lagi percaya jika negara benar-benar ada.

Setelah Bupati pergi, bentrokan antara aparat dan buruh kembali terjadi. Ia menyebut, hal itu terjadi karena ada oknum aparat yang selalu memprovokasi.

Aparat membakar bendera FSPMI. Merobohkan dan membakar tenda perjuangan. Bahkan Tivi, speaker dan barang-barang yang ia taruh ditenda pun tak luput dari sasaran. Semuanya dihancurkan. Termasuk motor-motor milik buruh yang diparkir jauh dari lokasi.

Motor yang dibeli secara kredit selama bertahun-tahun itu dihancurkan. Beberapa tangkinya pecah. Body-nya remuk. Aki-nya hilang. Ada yang rodanya dilepas lalu dibakar. Beberapa diantaranya dibuang ke selokan. Ia mengatakan, jumlah motor yang rusak parah mencapai 30-an.

Ia melihat beberapa kawannya babak belur. Bajunya berlumuran darah.

Dengan pistol di tangan, Polisi mengejar kawan-kawannya. Bahkan hingga ke dalam pabrik. Sore itu polisi menangkap 6 orang buruh. Satu orang adalah kawan satu perusahaan dengannya. Lima orang lagi berasal kawan-kawannya dari perusahaan lain yang datang untuk bersolidaritas. Hingga saat ini, ia gagal memahami. Mengapa tragedi kemanusiaan ini bisa terjadi. (*)

Tulisan ini pernah diterbitkan disini: http://fspmi.or.id/luka-buruh-purwakarta.html

Mengenal Sepultura

Acara pelepasan long march Bandung-Jakarta untuk mensosialisasikan Sepultura. Bandung, 10 Juni 2014. Foto: Kahar
Acara pelepasan long march Bandung-Jakarta untuk mensosialisasikan Sepultura dan sekaligus memberikan dukungan kepada pasangan Capres-Cawapres Prabowo – Hatta. Foto ini diambil saat acara pelepasan peserta long march Bandung – Jakarta (10 Juni 2014) di Monumen Perjuangan, Bandung | Foto: Dokumen Pribadi

Awalnya adalah 10 tuntutan buruh dan rakyat. Yang kemudian disingkat, Sepultura.

Sebagi sebuah tuntutan yang berasal dari rakyat, itu artinya, Sepultura adalah cita-cita. Cita-cita perjuangan. Sepultara adalah harapan. Dalam banyak kesempatan, KSPI berusaha dengan sungguh-sungguh agar kesepuluh tuntutan buruh dan rakyat itu bisa diwujudkan.

May Day tahun 2014 ini menjadi tonggak penting bagi Sepultura. Sepeti may day pada tahun-tahu berikutnya, serikat buruh selalu membawa isu perjuangan.

Dan kali ini, isu yang diangkat oleh buruh adalah Sepultura.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, 2014 adalah tahun politik. Tahun dimana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode Tahun 2014 – 2019 akan digelar. Tidak berlebihan jika kemudian KSPI mengeluarkan seruan: Siapapun Calon Presiden yang berani menjalankan Sepultura, pasti didukung oleh buruh.

Akhirnya fakta membuktikan. Hanya Capres Prabowo Subianto lah yang berani secara tegas menyatakan bersedia menjalankan Seputura. Menurutnya, Sepultura adalah hak rakyat. Ada didalam Undang-undang Dasar. Karena itu, ia menyatakan jika terpilih sebagai Presiden, tidak ada alasan Sepultura untuk tidak dijalankan.

Saat itu, Prabowo Subianto menyampaikan pernyataannya itu dihadapan 80-an ribu buruh yang memenuhi Gelora Bung Karno.

Inilah sebabnya, saya mengatakan bahwa Sepultura adalah cita-cita perjuangan. Sepultura bukanlah sekedar janji. Karena, memang, Sepultura tidak pernah dijanjikan. Lebih dari itu, Sepultura adalah harapan buruh dan rakyat Indonesia. Harapan kita semua. Siapapun presidennya, Sepultura haruslah terus diperjuangkan.

Prabowo Subianto, dalam kapasitasnya sebagai Calon Presiden Indonesia periode 2014 – 2019 pun telah menanda tangani kontrak politik dengan Said Iqbal, mewakili KSPI, Organisasi Serikat Pekerja, Organisasi Guru, Pedagang Kaki Lima, dan Organisasi Gerakan Lainnya.

Sepultura ditandatangani jauh hari sebelum koalisasi dengan partai-partai politik terbentuk.

Hal ini juga bermakna, KSPI tidak latah dalam hal memberikan dukungan kepada Capres. Dukungan itu lebih didasarkan kepada adanya kesamaan pandangan dalam cita-cita perjuangan.

Berikut adalah isi Sepultura itu:

Pertama, meningkatkan daya beli upah minimum pekerja/buruh dan masyarakat dengan cara mengubah jumlah jenis barang dan jasa yang menjadi Komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dari 60 jenis menjadi 84 jenis barang dan jasa serta meningkatkan produktivitas pekerja/buruh.

Kedua, menhapus kebijakan penangguhan upah minimum.

Ketiga, menjalankan jaminan pensiun wajib bagi buruh/pekerja per 1 Juli 2015 sesuai dengan UU SJSN dan BPJS.

Keempat, meningkatkan pelaksanaan jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia, secara gratis kepada pekerja/buruh  dan rakyat kurang mampu.

Kelima, menghapuskan sistem outsourcing tenaga kerja, termasuk outsourcing tenaga kerja di BUMN dan mengangkatnya menjadi pekerja tetap.

Keenam, Mengesahkan RUU PRT (Pekerja Rumah Tangga) dan merevisi UU TKI No 39/2004 harus berorientasi kepada perlindungan TKI serta syahkan RUU perawat.

Ketujuh, mencabut UU Ormas ganti dengan RUU Perkumpulan.

Kedelapan, mengangkat guru honorer dan tenaga kerja honor menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta subsidi Rp 1 juta per bulan dari APBN untuk guru honorer dan tenaga kerja honorer.

Kesembilan, Melaksanakan wajib belajar 12 tahun.

Kesepuluh, mengalokasikan APBN untuk beasiswa anak pekerja/buruh hingga perguruan tinggi secara gratis bagi yang berbakat dan berprestasi, menyediakan transportasi publik murah dan perumahan murah.

Tak Perlu Marah Hanya Karena Berbeda

Kahar S. Cahyono

Kawan-kawan yang baik, saya rasa kita tidak perlu marah hanya karena melihat sahabat atau teman dekat kita memiliki pilihan yang berbeda. Karena, memang, perbedaan adalah keniscayaan yang tak terbantahkan. Apalagi jika itu menyangkut pilihan politik. Selain soal Capres, saya rasa kita masih bisa bersepakat dalam banyak hal.

Perbedaan tidak harus menjadikan terbelah: ‘kita’ dan ‘mereka’.

Cukuplah kita menegaskan, ini sikap kami. Sambil terus mengorganisir dukungan. Memastikan bahwa cita-cita perjuangan itu bisa diwujudkan.

Pilihan kita memang tidak sempurna. Sebab jika engkau mencari yang sempurna, percayalah, itu tidak akan pernah ada.

Tetapi satu hal yang pasti, pilihan kita adalah yang paling ideal. Ideal sebagaimana kriteria yang telah kita sepakati. Ideal karena kita percaya, ia akan menjadi seperti yang kita minta. Ideal karena kita sendirilah yang menentukan standardnya. Bukan orang lain.

Dan jika kita percaya pilihan kita adalah yang terbaik, mengapa risau dengan yang orang lain pilih?

Dia yang sedang mencemoohmu, sesungguhnya sedang ragu dan galau dengan pilihannya itu. Bagaimana mungkin orang yang yakin dengan pilihannya sendiri melakukan cara-cara tidak terhormat untuk mempengaruhi? Cara-cara seperti itu hanya membuang-buang energi. Pun tidak akan mendapatkan simpati. 

Saya percaya pada gerakan massa. Percaya bahwa perubahan akan terjadi jika ada organisasi yang mengupayakan perubahan itu, bukan individu yang bergerak. Disini, di FSPMI, saya merasakan bahwa gerakan itu adalah gerakan kita semua. Karena itulah, kita dikenal dengan satu komando.

Ini menjadi bukti, bahwa gerakan kita bukan gerakan orang per orang. Ketika kemudian organisasi memutuskan untuk mendukung Prabowo – Hatta, saya pun mengambil tanggung jawab. Ikut mendukung apa yang sudah diputuskan oleh organisasi.

Jadi, organisasi adalah kata kunci. (*)

Menulis Rumah Buruh

Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.
Peserta Pelatihan Menulis di Bekasi nampak serius mengerjakan tugas yang diberikan.

Dalam sebuah Pendidikan Menulis yang diselenggarakan Tim Media FSPMI Bekasi, saya meminta peserta untuk membuat tulisan tentang Rumah Buruh. Tulisan ini berisi tentang pengamatan dan pengalaman mereka tentang jembatan buntung yang menghubungkan Kawasan Industri EJIP dan MM 2100 yang disulap sebagai pusat konsolidasi bagi anggota FSPMI. Sebuah tempat yang menyimpan sejarah. Menjadi saksi atas berbagai macam peristiwa dalam beberapa tahun belakangan ini.

Kunjungan saya ke Rumah Buruh memang tak melebihi jumlah jari tangan yang saya miliki. Tetapi kesan itu sungguh mendalam. Ia senantiasa hidup dalam hati. Wajah-wajah yang penuh semangat. Persahabatan yang erat. Romansa yang selalu indah ketika dijadikan cerita.

Ide tentang tulisan ini berawal ketika saya berkunjung ke Kepsonic Indonesia untuk mencatat tentang proses buruh go politic. Dari Tangerang naik bus Putra KJU, saya turun di depan pintu Tol Cibitung. Disini saya dijemput seorang kawan dari Wira Logistic. Saya diajak ke Sekretariat PUK. Setelah makan siang, barulah kami bersama-sama menuju Kepsonic, melalui Rumah Buruh.

Pembangunan sedang dilakukan diujung jembatan. Tak lama lagi, Rumah Buruh akan digusur. Tempat yang tadinya selalu ramai oleh buruh yang sedang melakukan konsolidasi itu tak lama lagi tinggal cerita. Saya merasa memiliki tanggungjawab untuk membuat catatan lengkap tentang rumah buruh dalam gambar dan kata. Rumah Buruh adalah bagian penting yang membuat organisasi ini bisa tumbuh seperti sekarang ini. Ada proses disitu. Dengan segala liku yang berlalu.

Dan diluar dugaan, ketika ide saya lemparkan kepada peserta, mereka terlihat antusias. Satu persatu mulai mengirimkan tulisannya. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada lima artikel tentang rumah buruh yang masuk. Ini bukan tentang baik dan buruk kualitas tulisan mereka. Ini tentang bagaimana kita akan memperpanjang napas sejarah.

Jika kawan-kawan memiliki foto, catatan pengalaman dan kesan mendalam tentang Rumah Buruh, saya akan senang hati menerimanya. Sila dikirim melalui e-mail saya dialamat berikut ini: kahar.mis@gmail.com

Masih ada sedikit dana yang tersisa dari pengerjaan buku ‘Cerita dari Bekasi’ untuk mengerjakan proyek ini. Termasuk melakukan riset kecil dengan mereka yang selama ini menjadi ‘penjaga’ Rumah Buruh.

Tetap semangat. Teruslah berkarya….

Lebaran yang Selalu Menjadi Alasan

Saat menulis catatan ini, arus balik lebaran sedang terjadi. Banyak orang sedang bergegas meninggalkan kampung halaman, untuk kembali menjalani rutinitas. Pemandangan tahunan seperti ini, memang selalu menarik untuk diceritakan. Apalagi, jika kita juga menjadi bagian daripadanya.

Lebaran selalu menjadi daya tarik yang dahsyat. Hampir semua orang membicarakannya. Menunggu kehadirannya. Sebagian besar energi kita pun tercurah untuk sebuah ritual tahunan itu. Bisa anda bayangkan, sisa upah yang dikumpulkan selama dua belas bulan, tidak jarang hanya untuk satu tujuan: agar bisa mudik saat lebaran. Continue reading “Lebaran yang Selalu Menjadi Alasan”

Ketika Roda Berputar

Ketika roda berputar: ada saatnya satu bagian berada di bawah, dan satu bagian yang lain berada di atas. Selal begitu, berganti setiap saat.

Kebahagiaan yang engkau rasakan hari ini, belum tentu akan bertahan hingga esok hari. Begitu juga dengan penderitaan yang kau rasa sekarang, yakinlah pada saatnya akan hilang.

Ketika roda berputar, tak ada lagi keabadian. Tetapi percayalah, bahwa itu adalah takdirnya. Tetaplah tersenyum, pasrah, dan jangan pernah menyerah.

“Kematian Ruyati, Juga Kematian Rakyat Karena Tidak Adanya Jaminan Sosial di Negeri Ini”

Ruyati masih saja menjadi pemberitaan di berbagai media. Perempuan ini dihukum qisas, dipancung setelah divonis bersalah karena membunuh majikan dan tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Mati memang takdir. Tetapi bagi Ruyati, banyak sisi lain yang menjadi sorotan. Bukan saja soal bagaimana nyawa terpisah dari raga, tetapi juga fakta tak terbantahkan dari buruknya diplomasi dan kinerja pemerintahan di negeri ini.

Dalam tulisannya, pemerhati sosial budaya yang tinggal di Jakarta, Djoko Suud Sukahar mengatakan, kini masih ada 23 WNI lagi yang akan menghadapi ancaman serupa. Dan itu baru di Saudi Arabia. Belum yang tersebar di negara-negara lain. Memang kita malu disebut sebagai ‘negara babu’. Tapi karena pemerintah tak kunjung berbenah, memanfaatkan kekayaan negeri ini digunakan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, maka rasa malu itu menjadi tragic-komedi. Malu tapi mau apalagi karena terpaksa.

Ya, sebuah keterpaksaan. Ungkapan ini, saya kira tepat untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi. Mengingat keterbatasan lapangan pekerjaan di negeri yang pernah disebut-sebut sebagai zamrud di khatulistiwa ini. Jika saja ada, niscaya mereka tidak berminat menjadi babu di negeri orang. Continue reading ““Kematian Ruyati, Juga Kematian Rakyat Karena Tidak Adanya Jaminan Sosial di Negeri Ini””

Refleksi May Day: Jaminan Sosial Sebagai Isu Utama Tahun Ini

Hari ini, kita berada di hari ke-tujuh di bulan Mei. 7 hari berlalu sejak tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, atau yang dikenal dengan sebutan May Day. Seperti halnya kemarin, 1 Mei di tahun 2011 ini hanya akan menjadi masa lalu. Dan memang, ia sudah berlalu.

Sebagai masa lalu, peringatan may day tahun ini bukannya tak memiliki arti apa-apa. Apalagi jika kita bisa menjadikannya sebagai titik tumpu untuk lompatan menuju masa depan. Sebagai tonggak perlawanan, peneguh perjuangan. Ini hanya akan terwujud, jika may day tidak hanya dimaknai sebagai sebuah seremonial.

Buat saya, May Day kali ini terasa bedanya. Bukan sekedar rute aksi yang lain dari biasanya: HI – Istana – HI. Tetapi sekaligus menjadi pembeda, mana-mana aktivis buruh yang konsisten atas perjuangannya, dan mana aktivis buruh – yang sebagian kawan menyebut – masuk angin. Continue reading “Refleksi May Day: Jaminan Sosial Sebagai Isu Utama Tahun Ini”