Ingat Hari Perempuan, Ingat Bicaralah Perempuan

Ingat bulan Maret, ingat International Women Day. Hari Perempuan Internasional. Sebagaimana kita tahu, tepatnya setiap tanggal 8 di bulan Maret inilah, Women Day diperingati.

Ingat perempuan, tentu anda masih ingat Bicaralah Perempuan!!! dan Senyum Bulan Desember, buku dwilogi bicaralah perempuan yang menyuarakan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di penghujung tahun 2010.

Buku yang diterbitkan oleh Leutika Prio ini, dari awal memang ditujukan untuk proyek sosial. Dalam artian, seluruh keuntungan dari penjualan buku ini, akan disumbangkan untuk Biro Perempuan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS), untuk program-program pemberdayaan dan penguatan kapasitas pekerja perempuan di Serang – Banten. FSBS adalah sebuah element ketenagakerjaan di Kabupaten Serang, yang konsens terhadap perjuangan dan perlindungan tenaga kerja. Continue reading “Ingat Hari Perempuan, Ingat Bicaralah Perempuan”

Berlian Santosa: Review Buku Bicaralah Perempuan!!!

:: Oleh Berlian Santosa (Ketua FLP Wilayah Jambi)

Membaca buku ini bikin merinding,marah,sedih, kecewa dg nasib yang menimpa buruh migrant (TKW) & buruh dalam negeri, kesal juga dg kebijakan lemah perusahaan & pemerintah. Perempuan yang masuk dalam ranah yang lemah tak berdaya rentan sekali mengalami banyak hal dalam kekerasan dan pelecehan.

Ternyata baru saya ketahui dengan detail ,diluar sana, betapa banyak kasus yang menimpa para perempuan pekerja kita dari tingkat high class serupa sekretaris sampe bahkan buruh yang dianggap nista tapi berjasa besar, pembantu rumah tangga.

Perkosaan, pelecehan seksual,kekerasan, diskriminasi gender, gaji tidak dibayar, penindasan dll menimpa kaum perempuan kita. Mrk spt ga ada harga! Continue reading “Berlian Santosa: Review Buku Bicaralah Perempuan!!!”

Dengan Bangga Memperkenalkan Penulis “Bicaralah Perempuan!!!”

Bicaralah Perempuan adalah buku yang menyuarakan tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Buku ini, meski banyak berbicara tentang luka, penghiatanan, dan air mata; namun tidak hendak mengajak anda berlarut-larut dalam duka. Sebaliknya, berharap ini akan menjadi halilintar yang membangunkan banyak orang dari mimpi panjang. Kekerasan terhadap perempuan begitu nyata, sangat dekat, dan menuntut partisipasi kita semua tanpa harus berfikir lambat.

Hebatnya, setiap bagian dalam buku ini membawa pesan tersendiri. Kendati kebanyakan dari mereka adalah penyangga keluarga dan tidak punya cadangan hidup, tetapi bagi mereka perjuangan martabat manusia sebagai perempuan harus lebih penting. Mereka tidak takut lapar, tidak takut dipecat, tidak takut miskin.

Perjuangan bukan saja untuk mereka, tetapi mereka ingin yang lain tidak mengalami hal serupa. Proses pembuktian yang tidak rasional dan tidak ramah korban, posisi yang dilemahkan dan akses jaringan vertikal yang tak berbanding dengan pelaku, stigmatisasi dan penyalahan korban; semua dilampaui sebagai perjuangan. Inilah bentuk nyata korban yang jadi pembela. Continue reading “Dengan Bangga Memperkenalkan Penulis “Bicaralah Perempuan!!!””

Catatan Menjelang Terbitnya Buku Bicaralah Perempuan

Bicaralah Perempuan!!! Sebuah judul yang menghentak. Ia seperti sedang mengarahkan langsung telunjuknya kepada kita. “Jangan hanya diam,” begitulah kira-kira pesan yang hendak disampaikan.

Ya. Kebanyakan dari kita, seringkali menyikapi diskriminasi berbasis gender dan kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan tanpa tindakan apa-apa. Dan akibatnya, meskipun berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan kerap ditemukan di tengah masyarakat, tetapi tak banyak yang ambil peduli terhadap persoalan ini. Apalagi untuk ikut serta dalam menangani kasus kekerasan itu sendiri. Continue reading “Catatan Menjelang Terbitnya Buku Bicaralah Perempuan”

Jenis-jenis Kekerasan Seksual

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Serang-Banten diluncurkan oleh FSBS pada 25 November 2010. Tidak gegap gempita, memang. Pun, diskusi dilakukan dalam temaram lampu lilin. Namun, dalam kesederhanaan itulah, tersimpan kesan yang mendalam. Sampai sekarang.

Diskusi berlangsung hangat dan akrab. Barangkali, ini karena tema yang diangkat sangat dekat.

Seperti diberitakan Radar Banten (26-11-2010), pada tanggal itu sebagian wilayah Banten yakni Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan terutama Kota Serang gelap gulita karena pemadaman listrik oleh PT PLN. Pemadaman listrik ini dilakukan PLN sejak pukul 16.30 WIB dan sempat hidup sekira 19.00 WIB, kemudian mati kembali pukul 10.30 WIB. Listrik nyala kembali sekira pukul 23.40. Continue reading “Jenis-jenis Kekerasan Seksual”

KERANGKA ACUAN: Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Di Indononesia, sebagai institusi nasional hak asasi manusia di Indonesia, Komnas Perempuan menjadi inisiator kegiatan ini. Keterlibatan Komnas Perempuan dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) telah dimulai sejak tahun 2003. Continue reading “KERANGKA ACUAN: Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”

Undangan Audisi Menulis ”Bicaralah Perempuan”

Dalam Rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(16 Days of Activism Against Gender Violence)
= = 25 Nopember 2010 s/d 10 Desember 2010 = =

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. Continue reading “Undangan Audisi Menulis ”Bicaralah Perempuan””

KAMPANYE 16 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEEREMPUAN

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Sebagai institusi nasional hak asasi manusia di Indonesia, Komnas Perempuan menjadi inisiator kegiatan ini di Indonesia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. Continue reading “KAMPANYE 16 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEEREMPUAN”

Gadis

Lagi-lagi, saya harus mengacungkan jempol kepada gadis ini. Usianya belum genap dua puluh tahun. Masih muda, tentu saja. Dan dalam usia itu, dalam setahun terakhir, ia sudah menjadi karyawan di sebuah perusahaan dengan status kontrak.

Do`i orangnya sederhana, ini kesan yang saya tangkap saat ia menghadiri sebuah diskusi bertajuk politik dan demokrasi yang diselenggarakan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Dan kesan itu semakin dalam, saat dalam beberapa kesempatan saya berdiskusi dengan si gadis.

Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Setidaknya, inilah pengakuannya. Mirip dengan saya. Hanya, bedanya, semua adik-adiknya adalah perempuan. Sedangkan saya hanya memiliki satu adik perempuan, dan itupun sudah almarhum. Continue reading “Gadis”

Buruh Perempuan, Bicaralah….

Saya terkesima saat membaca data dari Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, yang menyatakan bahwa jumlah buruh perempuan di di Kabupaten Serang lebih banyak dari buruh laki-laki. Perbandingannya cukup fantastis, dimana buruh perempuan mencapai 60.038 orang, sedangkan buruh laki-laki hanya 26.928 orang. Data ini, bisa jadi masih kecil jika dibandingkan dengan realita yang ada. Sebab masih banyak buruh yang bekerja di sektor informal tidak terdata. Belum lagi mereka yang berstatus kontrak dan outsourcing, yang keberadaannya tidak dilaporkan.

Terkait dengan buruh perempuan lebih banyak dari laki-laki, sebenarnya sudah sejak lama saya mengetahui. Namun, kali ini ada yang menghentak di dada saya. Bisa jadi, saya terprovokasi pernyataan Kepala Sub-Bagian Promosi dan Potensi Daerah Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Serang, Ruddy Mohammad Rahmanudin: Banyak wanita bekerja di pabrik karena beberapa faktor, di antaranya wanita cenderung tidak banyak protes, gajinya lebih murah, dan pekerjaanya lebih teliti. Sebagaimana yang dikutip Radar Banten, 4 Oktober 2010. Continue reading “Buruh Perempuan, Bicaralah….”