Hari Ke-1: Menulis Jaba

foto (8)Kemarin, Rapat Akbar FSPMI se-Provinsi Banten diselenggarakan di Jaba Garmindo. Presiden FSPMI Said Iqbal hadir dalam rapat sore itu. Melalui orasinya yang selalu berapi-api, dia memberikan penjelasan tentang isu perjuangan FSPMI tahun 2015-2016: JAMPETUM + K3. Sebuah pertemuan yang dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan seluruh kekuatan organisasi, jelang aksi nasional 1 September 2015.

Saya tak akan menulis tentang apa makna JAMPETUM + K3. Kali ini, saya lebih tertarik untuk menulis tentang Jaba. Sebuah kata yang akhir-akhir ini sering kita sebut ketika hendak mencari tempat untuk melakukan konsolidasi.

Saya memaknai Jaba sebagai tempat yang didalamnya tersimpan beribu kenangan. Kenangan selama lebih kurang 30 tahun buruh-buruh disini mengabdikan dirinya. Dan meskipun waktu 30 tahun bukanlah durasi yang lama dibandingkan dengan sejarah peradapan umat manusia, tetapi dalam rentang waktu itu penuh dengan cerita. Tawa dan air mata.

Dan pada pada saat yang bersamaan, dari tempat ini memancarkan sejuta harapan. Harapan tentang terkabulnya semua do`a yang dipanjatkan dari tenda-tenda perjuangan. Harapan tentang terpenuhinya sebuah janji: “Bahwa kita akan memenangkan pertarungan ini.”

Berbicara tentang Jaba, saya kembali teringat dengan tulisan beberapa kawan yang melukiskan kisahnya selama bekerja disini. Tim Media, beberapa waktu lalu meminta agar kawan-kawan Jaba menceritakan pengalamannya selama berada di tenda perjuangan. Selain untuk mengisi waktu, ini dimaksudkan agar uneg-uneg mereka keluar.

Kawan saya, Kiki, sudah beberapa kali menyampaikan jika ia sudah mengumpulkan foto tentang perjuangan kawan-kawan Jaba. Kami sepakat pada satu hal, “Suka duka selama 6 bulan lebih berada di tenda perjuangan harus terdokumentasikan.” Namun karena kami memiliki kesibukan masing-masing, selalu bingung darimana hendak memulai proyek ini.

Maka pagi ini saya putuskan, terhitung hari ini saya akan mulai menuliskan kisah tentang Jaba. Targetnya, buku ini akan selesai dalam 60 hari kedepan. Saya tak tahu, apakah hingga 24 Oktober 2015 nanti akan ada cukup waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi saya tahu, jika tak memulai, maka tak akan pernah sampai.

Meniru apa yang pernah dilakukan Dee ketika menulis Perahu Kertas, saya akan melaporkan hari demi hari perkembangan proyek penulisan ini.

Dan akhirnya, saya hanya bisa berharap pada diri sendiri, semoga konsistensi saya terjaga…

HENTIKAN KERAKUSAN KORPORASI

Aksi buruh Jaba Garmindo di depan Bank UOB Indonesia. Rabu, 17 Juni 2015
Aksi buruh Jaba Garmindo di depan Bank UOB Indonesia. Rabu, 17 Juni 2015

Dalam peringatan hari buruh Internasional tanggal 1 Mei 2015 yang lalu, International Trade Union Confederation (ITUC) mengangkat tema “End Corporate Greed”. Kampanye global di seluruh dunia itu membawa satu suara: AKHIRI KERAKUSAN KORPORASI.

Baiklah, itu di tingkat dunia. Bagaimana dengan konteks Indonesia?

Banyak contoh yang bisa disampaikan. Tetapi saya akan memulai dari sepucuk surat yang diterima buruh PT Jaba Garmindo pada tanggal 7 Mei 2015. Surat dari Kurator PT Jaba Garmindo (dalam pailit) dan Djoni Gunawan (dalam pailit) itu menyatakan, pemutusan hubungan kerja terhadap seluruh buruh PT Jaba Garmindo (dalam pailit) pada waktu 45 hari sejak tanggal surat pemberitahuan. Buruh hanya bisa pasrah. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, Pengadilan Niaga sudah mengetok palu.

Langkah selanjutnya adalah memastikan hak-hak buruh atas perusahaan yang pailit didapatkan. Dengan adanya surat Kurator tertanggal 7 Mei 2015, itu artinya, hingga tanggal 22 Juni 2015 buruh PT Jaba Garmindo masih memiliki hak atas yang biasa mereka terima. Perlu diketahui, sejak bulan Februari, pembayaran upah mereka sudah dihentikan.

Setelah itu, kabar lain datang menghampiri. Selama masa insolvensi, PT Bank UOB Indonesia mengajukan lelang eksekusi hak tanggungan atas asset PT Jaba Garmindo. Lelang pertama dilakukan oleh KPKNL Jakarta 1, pada tanggal 18 Juni 2015. Sedangkan lelang kedua dilakukan di Cirebon, melalui KPKNL Cirebon, tanggal 19 Juni 2015.

Buruh PT Jaba Garmindo melakukan aksi unjuk rasa pada hari dimana lelang itu dilakukan, baik di Jakarta maupun di Cirebon. Mereka meminta agar KPKNL membatalkan lelang. Tetapi lelang tidak bisa dihentikan. KPKNL berdalih, pelaksanaan lelang sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan undang-undang.

Pada saat yang sama, buruh pun berpedoman pada ketentuan. Adalah Mahkamah Konstitusi, dalam putusannya nomor 67/PUU-XI/2013 menyatakan, “pembayaran upah pekerja/buruh yang terhutang didahulukan atas semua jenis kreditur termasuk atas tagihan kreditur separatis, tagihan hak negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk Pemerintah.”

Tetapi kita tahu. Begitu menyangkut “orang kecil”, semua aturan hukum hanya indah di atas kertas.

Sebenarnya ada secercah harapan ketika dalam pertemuan di KPKNL Cirebon, ada kesepakatan jika pembahasan mengenai pembayaran upah dan THR dilakukan selambat-lambatnya pada tanggal 26 Juni 2015. Tetapi itu semua hanya omong kosong belaka. Hingga saat ini, Bank UOB Indonesia masih tidak mau berbagi terkait hasil penjualan aset, baik yang di lelang melalui KPKNL Jakarta 1 maupun KPKNL Cirebon.

Beredar kabar: UOB yang mempailitkan. UOB yang mengajukan lelang. UOB pula yang melakukan pembelian. Dan buruh, yang konon upahnya harus dibayar sebelum keringatnya kering, tidak mendapatkan apa-apa.

End Corporate Greed! Seruan untuk menghentikan kerakusan itu bergema disini. Bagi Bank UOB, masih ada sumber lain untuk bertahan. Sedangkan bagi buruh, upah adalah satu-satunya sumber mempertahankan hidup bagi diri dan keluarganya. Itulah mengapa, buruh akan terus melawan…

Setelah hari Jum`at, 3 Juli 2015 yang lalu melakukan pemanasan, hari Senen besok buruh kembali melakukan aksi besar di Bank UOB Indonesia. Dan jika tidak dipenuhi, buruh Jaba Garmindo yang mayoritas perempuan itu siap menginap disana, untuk masa waktu yang tidak ditentukan….

Jelang Mogok Nasional, KSPI Semakin Percaya Diri

Massa aksi dari FSPMI-KSPI Jawa Timur mengangkat spanduk berisi tuntutan dalam aksi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Tanggal 2 Oktober 2014. | Foto: Kascey
Massa aksi dari FSPMI-KSPI Jawa Timur mengangkat spanduk berisi tuntutan dalam aksi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Tanggal 2 Oktober 2014. | Foto: Kascey

Tanggal 2 Oktober 2014 memang sudah berlalu. Akan tetapi apa yang terjadi pada tanggal itu, jelas akan terkenang selalu. Inilah tanggal dimana puluhan ribu anggota KSPI melakukan aksi unjuk rasa secara serentak di berbagai kota. Menuntut pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada terciptanya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentu saja, kaum buruh berada didalamnya.

Tidak hanya di DKI Jakarta. Aksi serupa juga dilakukan di Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawah Timur, hingga Gorontalo. Tuntutan mereka sama. Menolak rencana kenaikan harga BBM, naikan upah minimum 30% dan rubah KHL menjadi 84 item, benefit jaminan pensiun untuk buruh sebesar 75% dari upah terakhir, jaminan kesehatan gratis untuk seluruh rakyat, dan hapuskan outsourcing termasuk di BUMN.

Lima tuntutan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari sepuluh tuntutan buruh dan rakyat (Sepultura). Bukti keteguhan KSPI terhadap komitment perjuangan yang telah diikrarkan.

Saya sedang berada di Jawa Timur ketika massa KSPI turun ke jalan, tanggal 2 Oktober 2014 yang lalu. Tergetar hati saya ketika melihat langsung betapa mereka bersemangat dalam memperjuangkan tuntutannya. Selama ini saya melihat secara langsung kaum buruh melakukan aksi besar-besaran hanya di DKI Jakarta dan sekitarnya. Ternyata, nun jauh dari ibu kota negara, aksi buruh juga dilakukan dengan sangat militan. Tak kalah, bahkan.

Ribuan buruh yang berasal dari Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya dan Gresik ini berkumpul di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Empat mobil komando (mokom) dari empat wilayah dikerahkan. Hari ini saya merasa sesuatu sekali.

Mengikuti aksi ini, saya serasa mengalami dejavu. Pada bulan April 2012, saya juga pernah ikut aksi di gedung negara Grahadi. Saat itu, Agus Supriyanto, korban outsourcing PT. Japfa Comfeed masih ditahan pihak kepolisian. Salah satu tuntutan kami adalah pembebasan pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua PC SPAI FSPMI Sidoarjo tersebut.

Tentu saja, dibandingkan dengan 2 tahun yang lalu, aksi kali ini jauh lebih besar. Terlebih lagi, aksi nasional KSPI pada tanggal 2 Oktober 2014 ini juga diumaksudkan sebagai pemanasan mogok nasional.

Berbicara tentang mogok nasional, rasanya buruh Jawa Timur sudah sangat siap. Di belakang salah satu mobil komando yang mereka pakai dalam aksi, bahkan ditulis merah dengan ukuran yang cukup besar: MOGOK NASIONAL JILID 3.

“Emang sudah siap mogok nasional,” kata saya kepada salah satu peserta mogok nasional. Sambil memperhatikan tulisan di mokom.

“Kalau ada instruksi untuk mogok nasional, kita mah selalu siap!” Ujarnya.

Saya tersenyum.

Kemudian ia buru-buru menambahkan. ” Seharusnya pemerintah mengabulkan tuntutan buruh, tanpa harus menunggu buruh melakukan mogok nasional.” Lebih jauh ia menyampaikan, upah buruh di Indonesia masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan upah di beberapa negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Filipina. “Sudah gitu, kita tidak dapat jaminan pensiun. Padahal PNS dapat. Ini namanya diskriminasi,” lanjutnya.

Saya kaget ia bisa memberikan argumentasi sedemikian rupa. Tak perlu ditanya, ia berada disini bukan sekedar ikut-ikutan.

“Dari mana tahu upah buruh Filipina lebih tinggi dari upah buruh Indonesia?”

“Lah, kan sering di posting di website FSPMI dan disebar oleh kawan-kawan lewat facebook,” jawabnya.

Saya terdiam. Benar-benar terdiam. Perlahan mulai menyadari, bahwa kemajuan teknologi membuat jarak sedemikian dekat. Mulai mengerti bahwa kerja-kerja tim media memiliki arti penting dalam hal menyebarkan dan mendistribusikan informasi. Ternyata, inilah yang membuat gerakan buruh semakin dekat.

Di media, saya melihat aksi serupa di berbagai daerah. Serentak. Dengan satu kesatuan komando.

Tidak berlebihan jika kemudian KSPI sangat yakin akan berhasil memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Percaya, bahwa persatuan adalah modal awal untuk mewujudkan cita dan asa.

Catatan Perburuhan: Kahar S. Cahyono

#perjalanankejawatimur

Mobil komando ini berasal dari Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Satu lagi dari Pasuruan (tidak tampak dalam gambar). Bukti kesungguhan buruh Jawa Timur dalam berjuang. | Foto: Kascey
Mobil komando ini berasal dari Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Satu lagi dari Pasuruan (tidak tampak dalam gambar). Bukti kesungguhan buruh Jawa Timur dalam berjuang. | Foto: Kascey
Mengikuti long march bersama kawan-kawan FSPMI Jawa Timur, menuju Gedung Negara Grahadi, Surabaya. | Foto: Kascey
Mengikuti long march bersama kawan-kawan FSPMI Jawa Timur, menuju Gedung Negara Grahadi, Surabaya. | Foto: Kascey
Massa aksi KSPI. Percara bahwa perubahan harus diperjuangkan. Foto: Kascey
Massa aksi KSPI. Percara bahwa perubahan harus diperjuangkan. Foto: Kascey
Bahkan sudah siap melakukan pemogokan secara nasional. | Foto: Kascey
Bahkan sudah siap melakukan pemogokan secara nasional. | Foto: Kascey
Tak gentar. Di hadapan polisi. Dihadang kawan berduri. | Foto: Kascey
Tak gentar. Di hadapan polisi. Dihadang kawan berduri. | Foto: Kascey

Meski Sibuk Dukung Capres, Buruh Tetap Kompak Tolak RPP Upah

Aksi menolak RPP Pengupahan di depan Kantor Menakertrans yang dilakukan FSPMI-KSPI pada hari Kamis, 19 Juni 2014 | Fotografer: Ocha Herma-One
Aksi menolak RPP Pengupahan di depan Kantor Menakertrans yang dilakukan FSPMI-KSPI pada hari Kamis, 19 Juni 2014 | Fotografer: Ocha Herma-One

Pesta demokrasi di tahun 2014 ini benar-benar terasa. Di media massa, di dunia maya, bahkan di alam nyata. Dukung mendukung terhadap kedua pasangan Capres-Cawapres semakin seru. Semua berlomba ingin menjadi nomor satu. Menjadi pemenang dalam Pemilu.

Kaum buruh, yang seringkali dianggap apatis dalam urusan politik, kini justru memainkan peran yang sangat penting. Mulai dari perayaan May Day yang ditandai dengan penandatanganan Sepultura (Sepuluh Tuntutan Buruh dan Rakyat) oleh Capres Prabowo Subianto dan Presiden KSPI Said Iqbal, pengambilan nomor urut di KPU yang dihadiri ribuan buruh, long march Bandung – Jakarta, hingga kampanye akbar yang melibatkan ratusan ribu buruh di berbagai daerah. Semua itu menegaskan bahwa gerakan buruh semakin politis.

Ini tentu membawa keuntungan tersendiri bagi gerakan.  Isu buruh menjadi bagian penting yang terus-menerus disuarakan. Sesuatu yang tidak pernah terjadi, dalam pemilu-pemilu sebelumnya. Continue reading “Meski Sibuk Dukung Capres, Buruh Tetap Kompak Tolak RPP Upah”

Seharusnya Sistem yang Bekerja, Bukan Kendali Satu Dua Orang Saja!

Kahar S. Cahyono

Pagi ini saya berada ditengah kesibukan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Saya harus segera kembali ke Jakarta, karena jam 13.00 siang sudah harus menghadiri rapat dengan Tim Media. Sementara istri dan anak-anak masih tertinggal di Palembang.

Sambil menunggu jadwal penerbangan, saya menyalakan laptop. Dan selalu menyenangkan bisa tersambung dengan internet. Selain bisa berselancar di dunia maya, saya bisa mengirimkan Pengantar Bukti Surat untuk persidangan di PHI siang nanti. Sejak kemarin Sofi dan Ralih sudah menanyakan kapan ia bisa menerima pengantar itu.

Dalam situasi seperti ini, saya merasa bersalah sekali. Seharusnya bukan hanya saya yang bisa membuat surat-surat menyurat untuk PHI: gugatan – replik – duplik – pengantar bukti surat – kesimpulan dan lain sebagainya.

Alasannya selalu saja klasik. Meskipun advokasi dianggap penting, namun jarang sekali ada orang yang bersedia menekuni bidang ini. Banyak kawan lebih suka melakukan aksi beramai-ramai dan mundur teratur ketika kasus sudah masuk jalur litigasi. Beruntung, ada orang-orang seperti Sofi, Ralih, Isroil, Kristian Lelono, Omo dan Mundiah yang mulai berani masuk ke ruang sidang.

Itulah sebabnya, dalam waktu dekat ini saya berencana menyelenggarakan diklat tentang beracara di PHI untuk kawan-kawan FSPMI Tangerang. Bukan hanya sekedar transfer pengetahuan, karena tujuan terpenting dari diklat ini adalah agar semakin banyak diantara kita yang bisa membantu buruh yang mengalami perselisihan. Saya mengundang kawan-kawan yang membutuhkannya untuk memberikan konfirmasi.

Diklat seperti ini bisa kita lakukan secara sederhana. Kuncinya adalah kemauan. Selebihnya karena memang kita membutuhkan ilmu itu.

Saat ini, misalnya, setiap Senin malam Selasa terjadwal Pendidikan Spesialis Pengupahan. Sedangkan setiap Rabu malam Kamis terjadwal Pendidikan Dasar Serikat Pekerja. Dimulai pukul 18.30 – 20.00 dan sudah berjalan sejak sebulan yang lalu.

Kini saatnya sistem yang bekerja. Bukan kendali satu atau dua orang saja…

“Teruslah berjuang, sampai pengusaha memuliakan kaum pekerja”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Baru saja Ketua Umum PP SPEE FSPMI Suhadmadi selesai memberikan arahan dan sambutannya, ketika hujan deras mengguyur Tangerang. Melihat cuaca yang kurang bersahabat itu, agenda konsolidasi yang semula diselenggarakan dengan duduk menghampar di halaman Sekretariat PC FSPMI Tangerang terpaksa dipindahkan ke lantai 3. Meskipun seluruh peserta tidak tertampung dalam ruangan ini, setidaknya acara tetap bisa dilanjutkan. Kawan-kawan yang tidak tertampung di dalam ruangan, mendirikan tenda dan mendengarkan pidato dari pengurus PP dan DPP melalui pengeras suara.

Peristiwa itu terjadi pada sore kemarin, Jum`at (25/1). Saat PP SPA dan DPP FSPMI mengadakan kunjungan kerja ke Tangerang. Terlihat perwakilan FSPMI Kab/Kota Serang juga nampak hadir. Kunjungan itu sendiri, terkait erat dengan persiapan pelaksanaan peringatan hari ulang tahun FSPMI yang ke-14, tanggal 6 Februari 2013 nanti.

Hadir dalam kunjungan itu, Presiden FSPMI Ir. H. Said Ikbal, ME; Wakil Presiden FSPMI Iswan Abdullah; Ketua Umum dan Sekretaris Umum PP SPEE FSPMI Suhadmadi dan Yudi Winarno; Ketua Umum SPL FSPMI H. Yadun Mufidz, dan Sekretaris Umum SPAI FSPMI Jamaludin Malik.

Kehadiran para pengurus dari tingkat pusat, sangat-sangat memberikan energi positif bagi anggota. Ini juga yang membuat jarak menjadi begitu dekat. Bahwa seluruh sumber daya yang dimiliki serikat memang sedang berjuang bersama. Ke arah yang sama, menuju cita-cita bersama.

* * *

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP SPEE FSPMI Suhadmadi mengingatkan, bahwa kenaikan UMK/UMSK harus juga diikuti oleh ketaatan anggota dalam membayar iuran. Kenaikan upah yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir ini, tidak bisa dilepaskan dari peran serikat pekerja. Tanpa perjuangan serikat pekerja, tidak mungkin semua ini akan tercapai. Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua untuk menjaga agar FSPMI terus tumbuh sebagai serikat pekerja yang kuat. Serikat pekerja yang mampu memberikan harapan kita semua, menjadi buruh yang sejahtera.

Dalam konteks itu, iuran adalah darah bagi organisasi. Jika iuran berhenti, maka organisasi akan mati. Tidak peduli sebaik apapun program kerja yang Anda buat, jika ketaatan anggota dalam membayar iuran rendah, maka bisa dipastikan serikat akan menjadi sekarat. Mungkin iai tidak mati. Tetapi tidak lagi bisa banyak berbuat.

* * *

Sementara itu, Sekretaris Umum PP SPAI FSPMI Jamaludin Malik memberikan apresiasi atas perkembangan Serikat Pekerja Aneka Industri yang luar biasa. Bung Jamal, begitu pria asal Surabaya ini biasa disapa, juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran organisasi yang telah membantu perkembangan serikat pekerja termuda di FSPMI ini. Sembari berharap, di masa yang akan datang, SPAI FSPMI bisa memberikan konstribusi yang lebih besar bagi tercapainya cita-cita perjuangan buruh Indonesia.

* * *

Ketua Umum PP SPL FSPMI H. Yadun Mufidz menegaskan, bahwa kita tidak mungkin menjadi besar seperti yang sekarang ini, tanpa adanya kerja sama. Dan karena ini adalah hasil bersama, maka semua capaian ini adalah milik semua anggota FSPMI. Dari tingkat PUK hingga DPP. Dari yang berada di Ibu Kota Negara, hingga yang berada di pelosok sana.

Jangan pernah sekali-kali lupa pada sejarah. Sejarah perjalanan organisasi ini mengajarkan kepada kita, kebersamaan ini membuat organisasi menjadi kuat. Menjadi besar. Percayalah selalu pada rumus ini: jika kebersamaan menguatkan, maka perpecahan akan menghancurkan.

Kita yang memiliki tugas untuk merawat dan mengembangkan organisasi ini. Bukan orang lain. Maka dari itu, siapa saja yang tercatat sebagai anggota, memiliki kewajiban untuk memberikan sumbang sih-nya dari dirinya sendiri. Partisipasi dalam perjuangan, bukan untuk dititipkan.

Sampai kapan perjuangan ini harus kita lakukan?

Jawabnya adalah: sampai pengusaha, memuliakan kaum pekerja.

Kapan itu akan terlaksana? Tidak ada jangka waktu yang pasti. Apakah akan tercapai dalam hitungan tahun, windu, atau bahkan abad. Bisa jadi, bahkan ketika nanti usia kita sudah usai, apa yang kita cita-citakan itu belum juga terealisasi. Meskipun begitu, jangan pernah berkecil hati. Setidaknya kita sudah memulai.

Karena orang-orang yang memiliki semangat berjuang seperti Anda, FSPMI bisa menjadi seperti yang sekarang ini. Kehebatan Presiden FSPMI tidak akan berati apa-apa, jika gagasan dan programnya tidak kita dukung. Dan menjelang ulang tahunnya yang ke-14, sudah saatnya kita melakukan instropeksi diri. Saya masih percaya, kita masih bisa menjadi lebih dari yang sekarang ini. Menjadi lebih hebat, lebih kuat, lebih dalam memberikan manfaat.

Sebuah nama yang harus tetap dijaga

Aksi Monas
“Anggota FSPMI ya, Mas?”

Sebuah pertanyaan ditujukan kepada saya, siang itu. Saya sedang makan di warteg pinggir jalan ketika seorang lelaki menanyakan hal ini kepada saya. Saya memakai jaket FSPMI. Jadi, tidak terlalu sulit mengidentifikasi bahwa saya juga anggota dari serikat pekerja ini.

Mendengar pertanyaan itu, saya tersenyum. Sebelum akhirnya mengiyakan.

“Aku sering lihat bendera FSPMI di Cikarang. Dibandingkan dengan serikat yang lain, FSPMI lumayan bagus lah,” ujarnya penuh semangat.

“Bagus gimana?” Tanya saya.

“Solidaritasnya tinggi. Kalau ada masalah di satu perusahaan, anggota FSPMI dari perusahaan yang lain juga ikut membantu. Adik saya, yang tadinya outsourcing sekarang diangkat menjadi karyawan tetap setelah diperjuangkan oleh FSPMI.” Panjang lebar lelaki yang tidak saya ketahui namanya itu bercerita.

“Waktu itu pernah tutup tol juga kan ya…,” lanjutnya. Seterusnya, banyak cerita yang disampaikan.

Sepanjang ia bercerita, saya lebih banyak mendengarkan. Saya memposisikan diri sebagai orang yang masih awam tentang FSPMI. Sikap saya yang seperti itu, justru membuatnya semakin bersemangat untuk menginformasikan banyak hal tentang apa yang dia ketahui tentang serikat pekerja yang juga tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ini.

* * *

Entah mengapa, menjelang peringatan ulang tahun FSPMI ke-14 yang jatuh pada tanggal 6 Februari 2013 nanti, percakapan di warteg siang itu terkenang kembali. Ada getaran yang berbeda, setiap kali mendengar penilaian positif dari orang lain terkait dengan keberadaan FSPMI. Saya serasa mendengarkan lagu-lagu kesukaan. Jauh dari rasa bosan, meski mendengarnya berulang-ulang.

Cerita-cerita itu semakin membuat saya yakin, bahwa eksistensi organisasi dihargai. Kerja keras untuk menjadikan FSPMI sebagai lokomotif gerakan buruh Indonesia tidaklah sia-sia. Memang, ada juga yang memberikan penilaian yang sebaliknya. Tidak apa-apa. Karena memang begitulah realitas kehidupan di dunia. Selalu ada yang berbeda dalam memandang permasalahan yang sama.

Kini, diakui atau tidak, FSPMI menjelma sebagai serikat pekerja yang disegani di Indonesia. Banyak harapan ditumpukan kepada organisasi ini. FSPMI memang bukan serikat pekerja yang paling banyak memiliki anggota, setidak-setidaknya untuk saat ini. Akan tetapi, ia mampu mengkonsolidasikan semua potensi yang dimilikinya untuk melakukan aksi-aksi besar. Bahkan jauh lebih besar dari jumlah anggota yang dimilikinya.

Tidak berlebihan, jika kepercayaan kaum pekerja terhadap organisasi ini semakin besar. Dalam satu tahun terakhir ini saja, penambahan jumlah unit kerja, bahkan meningkat hingga dua kali lipat. Anggota semakin bertambah banyak. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya jumlah penerimaan iuran dari anggota. Saya kira ini adalah tolak ukur yang paling gampang dilihat, jika organisasi sedang berkembang pesat.

Merayakan ulang tahun di saat organisasi ini sedang tumbuh, tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kali ini perayaan ulang tahun FSPMI akan dilakukan dengan penuh suka cita. Penuh dengan luapan air mata bahagia. Tidak tanggung-tanggung, FSPMI merencanakan di hari ulang tahunnya nanti akan ditandai dengan Seminar Internasional pada tanggal 5 Januari 2013, aksi unjuk rasa yang akan diikuti tidak kurang dari 50 ribu anggota FSPMI pada keesokan harinya, dan dilanjutkan dengan Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) yang diikuti utusan organisasi dari seluruh Indonesia.

Usia 14 tahun memang masih sangat belia. Masa-masa yang menggemaskan, sekaligus mencemaskan. Menggemaskan, karena di usia belia, FSPMI sudah mampu melakukan banyak hal. Bandingkan dengan serikat pekerja lain, yang bahkan untuk sewa sekretariat saja kesulitan. Mencemaskan, sebab jika tidak hati-hati mengelola, bisa-bisa organisasi yang sangat dicintai anggotanya ini akan binasa sebelum memasuki usia yang terbilang tua.

FSPMI sudah dikenal dimana-mana. Dan kita, adalah nyawa yang membuat keberadaannya menjadi bermakna.

FSPMI hanyalah nama dari sebuah federasi serikat pekerja. Dan kita, adalah kebersamaan yang akan memastikan keberadaannya tetap terjaga. Oleh kita. Anggotanya. Dan siapa saja yang mendambakan perubahan terjadi di republik ini.

Ini Untukmu, Han

OLYMPUS DIGITAL CAMERA“Terserah kalian. Mau dibawa kemana tuh masalah. Saya sudah nggak bisa apa-apa. Harta, tenaga, pikiran, semuanya sudah habis. Cuma tinggal ada baju yang nempel di badan, handphone ini, dan motor bodong jelek ini aja. Saya sudah enggak punya apa-apa. Buat makan hari ini aja, saya nggak tahu jual yang mana dulu. Handphone, motor, atau baju yang saya pakai.”

Ini SMS yang engkau kirim kemarin, Han. Jujur saja, aku kaget ketika membacanya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika engkau akan mengirimkan pesan singkat seperti itu kepadaku. Kita memang hanya beberapa kali bertemu. Oleh karena itu, aku tahu, engkau serius. Bukan maksudmu ingin bercanda saat mengirimkan pesan itu kepadaku.

“Pulanglah ke rumah. Agar engkau bisa menghilangkan resah,” jawabku. “Biarlah aku yang akan menyelesaikan semua masalah ini.”

“Rumah siapa? Saya sudah dari hari Senin nggak pulang. Nggak ada yang bisa ngertiin saya. Nggak Anda, nggak yang lain. Semuanya nggak ada yang mau mengerti. Saya sudah ada yang nemenin di pinggir jalan. Air mata. Hanya air mata yang bisa mengertiin saya saat ini.”

Ini hari Kamis. Jika engkau benar, artinya sudah tiga hari dirimu meninggalkan rumah. Terbayang olehku. Dirimu yang kurus itu, kini tengah menangis tersedu. Di satu tempat yang tak kutahu, entah dimana.

Aku mengenalmu, baru beberapa bulan yang lalu. Saat-saat pertama ketika dirimu hendak bergabung dengan serikat pekerja. Kamu masih ingat kan, Han? Aku yakin, dirimu tidak akan pernah melupakan saat-saat awal pertemuan kita.

Dan beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar jika dirimu di PHK.

Aku prihatin dengan apa yang terjadi padamu, Han. Masih lekat dalam telingaku, saat kamu mengutarakan mimpi-mimpi itu.

“Aku ingin menjadi kayawan tetap,” katamu. Saat itu, dirimu mengatakan berberstatus sebagai karyawan harian.

Setelah PHK itu, dirimu goyah. Engkau yang baru lulus sekolah, baru beberapa bulan mampu hidup mandiri tanpa menengadahkan tangan kepada orang tua, kini harus kehilangan semua itu. Sempat kamu bercerita jika orang tuamu marah besar. Menyalahkanmu yang ikut-ikutan mendirikan serikat pekerja.

Kamu selalu beranggapan, jika PHK ini gara-gara dirimu bergabung dengan serikat pekerja. Sejak saat itu, mulailah dirimu menyalahkan siapa saja. Menyalahkan teman-temanmu. Menyalahkan serikat pekerja. Menyalahkan keputusanmu sendiri.

Han, bukankah tidak ada sedikitpun niat dalam hatimu, ketika bergabung dengan serikat pekerja hanya untuk di PHK? Bukankah niat kita begitu hebat: menjadi karyawan tetap, upah layak, dan meretas asa menjadi buruh yang bermartabat. Buruh yang sejahtera.

Ingat kan, Han? Itu niat kita pada awalnya.

Jika kemudian dirimu di PHK, itu adalah bagian dari resiko perjuangan. Ingat, Han. Dirimu juga belum benar-benar di PHK. Kita tidak akan tinggal diam. Kita akan melawan: Dengan sehebat-hebatnya. Sekuat-kuatnya.

“Apakah ada jaminan aku akan dipekerjakan kembali?” Katamu

Aku tersenyum. Kemudian menggeleng. “Tidak ada, Han. Tidak ada yang memberikan jaminan. Satu-satunya jaminan yang bisa aku berikan adalah, kita tidak akan pernah menyerah.”

Kulihat engkau mengangguk. Aku tahu, kini engkau sudah menemukan dirimu kembali. Ini hanyalah soal luar biasa yang sudah biasa.

Ayolah, Han. Kita kembali berjuang….

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Persahabatan Yang Indah

kisahBersediakah dirimu mendengar sebuah kisah tentang persahabatan yang indah. Persahabatan yang saling menguatkan satu sama lain. Bukan semata-mata dekat ketika ada ‘maunya’. Bukan pula sekedar bersama, yang tidak jelas akan berbuat apa.

Jika engkau mau, baiklah, akan kuceritakan kepadamu.

Ini tentang sekelompok pekerja, yang pemikiran dan tindakannya melampaui dinding-dinding perusahaan. Sosok yang sadar dengan sesadar-sadarnya, bahwa status karyawan, cepat atau lambat akan berakhir. Dan pada akhirnya, yang tersisa dari semua itu adalah kebaikan-kebaikannya.

Memang, akan selalu ada, diantara kita yang nanti akan dikenang sebagai pecundang. Penjilat pantat atasan. Menghianati kawannya sendiri.

Tetapi jika boleh memilih, tentu aku akan memilih sebagai orang yang dikenang karena kebaikan-kebaikannya itu. Tak terbayang bagaimana malunya anak dan istriku, jika kelak mengetahui bapak dan suaminya adalah pecundang, justru disaat kawan-kawannya sedang berjuang.

* * *

Mereka tidak saja bekerja di perusahaan yang sama. Tidak juga karena berorganisasi dalam satu bendera. Lebih dari itu, mereka dipertemukan, berteman, dan kemudian berjalan beriringan dalam sebuah kesadaran. Kesadaran yang mencerahkan, bahwa sebagai manusia mereka harus tetap hidup di atas nilai-nilai kemanusiaan. Kesadaran yang sama, yang kemudian menuntun mereka, bahwa siapapun yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan adalah musuh bersama bagi manusia.

Tahukah dirimu, itulah yang membuat mereka bergandengan semakin erat, ketika ada yang mencoba mengganggu. Tak peduli dengan warna kulit. Berasal dari suku mana. Apa statusnya dalam pekerjaan. Apakah gajinya di atas atau jauh dibawah UMR. Mereka hanya percaya pada satu hal: bahwa dimanapun mereka berada, penghisapan manusia atas manusia haruslah dihentikan.

Mereka peduli. Bukan hanya di pabrik tempatnya mengabdi. Tetapi, juga, di pabrik-pabrik lain tempat kawannya bekerja. Bukan saja tentang urusan pabrik dengan segala dinamikanya. Sebab mereka juga berbicara tentang jaminan sosial, penolakan terhadap kenaikan BBM, juga bagaimana memberikan pertolongan kepada korban banjir.

* * *

Kukira, seperti inilah persahabatan yang indah itu.

Mereka tidak cukup memiliki uang untuk membeli kesenangan. Tetapi senyum tulus, solidaritas yang ikhlas, kebersamaan yang jauh dari kepentingan dan ambisi pribadi, lebih dari cukup untuk membuat mereka menjadi manusia yang sebenar-benarnya.

Lebaran yang Selalu Menjadi Alasan

Saat menulis catatan ini, arus balik lebaran sedang terjadi. Banyak orang sedang bergegas meninggalkan kampung halaman, untuk kembali menjalani rutinitas. Pemandangan tahunan seperti ini, memang selalu menarik untuk diceritakan. Apalagi, jika kita juga menjadi bagian daripadanya.

Lebaran selalu menjadi daya tarik yang dahsyat. Hampir semua orang membicarakannya. Menunggu kehadirannya. Sebagian besar energi kita pun tercurah untuk sebuah ritual tahunan itu. Bisa anda bayangkan, sisa upah yang dikumpulkan selama dua belas bulan, tidak jarang hanya untuk satu tujuan: agar bisa mudik saat lebaran. Continue reading “Lebaran yang Selalu Menjadi Alasan”